![]() |
| Foto Dokumentasi saat pembukaan Gelaran budaya bertajuk Gelar Budaya Luwung di Gedung Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Pacitan. Rabu, (04/02/2026) |
PACITAN | lensanasional.com – Gelaran budaya bertajuk Gelar Budaya Luwung yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Pacitan ke-281 menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali peran kebudayaan sebagai fondasi pembangunan karakter generasi bangsa. Kegiatan yang dikemas melalui Majang Keris dan Majang Akik ini berlangsung pada 4–6 Februari 2026 di Gedung Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Pacitan.
Acara dibuka secara resmi oleh Bupati Pacitan bersama Staf Khusus Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Bidang Sejarah dan Perlindungan Warisan Budaya Basuki Teguh Yuwono, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya kebudayaan sebagai warisan lintas generasi yang harus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan dengan pendekatan yang bijak serta adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dalam pidatonya, Staf Khusus Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa kebudayaan kerap dianggap sederhana dalam kehidupan sehari-hari, namun justru menjadi sesuatu yang kompleks ketika hendak diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kebudayaan menjadi sesuatu yang penting, bagaimana tumbuh kembang dan keberadaannya itu untuk terus kita wariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya di hadapan para tamu undangan dan masyarakat yang hadir.
Ia menegaskan bahwa perkembangan intelektualitas generasi muda yang pesat perlu diimbangi dengan pemahaman kebudayaan yang proporsional. Namun, menurutnya, pelestarian budaya tidak boleh dilakukan dengan cara yang kaku atau memaksakan.
“Kita tidak boleh menjadi generasi yang terlalu kaku, seolah-olah generasi muda harus tahu semuanya, harus tahu wayang, keris, ketoprak, batu akik, dan sebagainya. Yang penting adalah memberikan fondasi substansial tentang kebudayaan, namun tetap lentur, agar mereka bisa memilih fokus dan kedalaman masing-masing,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menggambarkan bahwa dari proses tersebut kelak akan lahir generasi ahli di berbagai bidang budaya, mulai dari batik, wayang, keris, hingga batu akik, yang akan memperkaya warna kebudayaan Indonesia.
Menurutnya, esensi utama kebudayaan terletak pada nilai-nilai substansial yang terkandung di dalamnya, seperti tanggung jawab, kearifan, serta sikap rendah hati, yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai teladan bagi generasi muda.
“Ketika kita mengimplementasikan kebudayaan dalam kehidupan, secara langsung atau tidak langsung nilai-nilai itu akan diikuti oleh generasi muda kita,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Staf Khusus Menteri Kebudayaan juga mengungkapkan hasil diskusinya dengan Bupati Pacitan terkait gagasan besar pembangunan Museum Arkeologi di Kabupaten Pacitan. Museum tersebut direncanakan menjadi ruang edukatif bagi generasi muda untuk mengenal sejarah pertanian masa lampau, gastronomi lokal, hingga nuansa rumah tradisional Pacitan tempo dulu.
“Ini bukan mengajak generasi muda kembali ke masa lampau, tetapi masa lampau adalah fondasi terkuat agar kita melangkah ke depan dengan identitas yang kuat,” ungkapnya.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk bersinergi mewujudkan cita-cita tersebut melalui kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Pacitan dan Kementerian Kebudayaan.
“Mimpi itu indah, tapi kalau terlalu lama bermimpi kita bisa kaget saat bangun. Mari kita wujudkan mimpi itu menjadi realita,” pungkas Basuki Teguh Yuwono.
Sementara itu, Gelar Budaya Luwung sendiri menghadirkan beragam koleksi pusaka bernilai sejarah tinggi, termasuk keris pusaka milik Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menjadi daya tarik utama pengunjung. Selain itu, pameran Majang Akik menampilkan batu akik koleksi tokoh masyarakat dan kyai Pacitan, salah satunya akik bertuliskan lafaz “Allah” yang menarik perhatian publik.
Kegiatan ini juga dihadiri tokoh agama Pacitan, Gus Lukman dari Pondok Pesantren Tremas, serta masyarakat yang antusias menyaksikan pameran budaya tersebut.
Pemerintah Kabupaten Pacitan berharap melalui Gelar Budaya Luwung yang dirangkaikan dengan Hari Jadi Pacitan ke-281 ini, kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya pelestarian budaya semakin meningkat, sekaligus mendorong Pacitan menjadi pusat kegiatan budaya yang berdaya saing nasional. (Ans)





0 Komentar