![]() |
| Foto Dokumentasi, Aktivitas penambangan pasir di aliran Sungai Grindulu Pacitan terhenti setelah penutupan sementara oleh aparat kepolisian. |
PACITAN | lensanasional.com - Imbas Penutupan Tambang Grindulu, puluhan KK di Arjowinangun Kehilangan Penghasilan: Kami Nganggur Total
Penutupan sementara aktivitas penambangan pasir di sepanjang aliran Sungai Grindulu, Kabupaten Pacitan, mulai berdampak pada kehidupan ekonomi warga.
Kebijakan yang diberlakukan sejak Rabu, 20 Mei 2026 itu membuat sejumlah pekerja tambang kehilangan mata pencaharian.
Sebelumnya, Polres Pacitan resmi menghentikan seluruh aktivitas penambangan pasir di wilayah Sungai Grindulu, khususnya di Desa Purworejo, hingga waktu yang belum ditentukan.
Kendati begitu, dampak penutupan tersebut juga dirasakan oleh pihak tambang di RT 6 RW 2, Lingkungan Kauman, Desa Arjowinangun, Kecamatan Pacitan, yang selama ini tidak memiliki persoalan lingkungan maupun keluhan warga terkait aktivitas tambang di wilayah mereka.
Salah satu pekerja tambang, Janap Suprapto (60), mengatakan penutupan dilakukan bukan karena masalah di wilayah mereka, melainkan dampak dari persoalan di lokasi lain.
“Penutupan ini sudah ada sekitar satu minggu. Informasinya karena masalah jalan rusak di Purworejo, bukan daerah sini, wilayah Arjowinangun aman. Tapi kami ikut kena dampaknya,” ujarnya. Sabtu, (23/05/2026)
Ia menyebut dampak paling dirasakan adalah terhentinya seluruh aktivitas ekonomi para pekerja tambang.
“Tenaga nganggur semua, keluarga otomatis ekonominya berhenti, biaya anak sekolah juga macet,” katanya.
Menurutnya, aktivitas penambangan di lokasi tersebut melibatkan sekitar 10 kepala keluarga dengan total sekitar 25 orang yang menggantungkan hidup dari pasir sungai.
“Dengan penutupan ini kehilangan mata pencaharian, iya betul,” ujarnya.
Janap menambahkan, selama penutupan para pekerja hanya menerima bantuan sekali berupa beras 5 kilogram dari kepolisian.
“Pernah dapat bantuan baru sekali beras 5 kilogram dari kepolisian per KK,” jelasnya.
Pekerja lainnya, Misri (60), mengaku aktivitas tambang di wilayahnya sudah berlangsung lama dan selama ini berjalan secara manual tanpa alat berat besar.
“Di sini nyedotnya sore jam 2 sampai jam 4, dikumpulkan dulu, lalu dijual pagi. Semua manual,” ujarnya.
Ia menilai penutupan saat ini berdampak langsung pada ekonomi warga kecil yang bergantung pada aktivitas tersebut.
“Kadang kita nimbun, besoknya tidak laku, pulang tidak bawa uang sama sekali,” katanya.
Menurutnya, dalam satu hari kelompok pekerja hanya mendapatkan hasil terbatas yang kemudian dibagi untuk kebutuhan operasional.
“Paling satu hari itu per kelompok dapat 3 mobil dump, uangnya dibagi empat untuk solar dan operasional,” jelasnya.
Misri menyebut terdapat sekitar 8 kelompok pekerja yang selama ini aktif di lokasi tersebut, dengan masing-masing kelompok beranggotakan 4 hingga 5 orang.
Ia berharap ada kebijakan yang lebih adil agar aktivitas ekonomi masyarakat kecil bisa kembali berjalan.
“Masih bingung kita, ketok e urip tapi mati mas (kelihatannya kita hidup tapi mati mas)” ujarnya.
Sementara itu, hingga kini belum ada kepastian kapan aktivitas penambangan pasir di Sungai Grindulu akan kembali dibuka oleh pihak berwenang. (**)









0 Komentar