![]() |
| Gambar ilustrasi truk pengangkut pasir yang tidak beroperasi terdapak penutupan aktivitas penambang pasir di aliran sungai grindulu Pacitan |
PACITAN | lensanasional.com – Penutupan aktivitas penambangan pasir di sepanjang aliran Sungai Grindulu, Kabupaten Pacitan, tidak hanya berdampak pada para penambang tradisional. Kebijakan tersebut kini mulai menyeret nasib para sopir dump truk, buruh angkut, hingga pekerja proyek bangunan yang ikut kehilangan penghasilan.
Sejak aktivitas tambang dihentikan sementara oleh pihak berwenang, puluhan kendaraan pengangkut pasir terlihat tidak lagi beroperasi. Para sopir yang biasanya setiap hari mengangkut material pasir ke berbagai proyek kini hanya bisa menunggu tanpa kepastian.
Salah satu sopir pengangkut pasir, Arp, mengaku sejak penutupan tambang dirinya praktis tidak memiliki pemasukan.
“Nganggur mas, gimana mau ngerit, yang ngambil pasir di aliran Sungai Grindulu dihentikan entah sampai kapan,” ujarnya, Sabtu (23/05/2026).
Menurutnya, penghasilan para sopir sepenuhnya bergantung pada ritase pengiriman pasir ke proyek-proyek bangunan maupun kebutuhan rumah tangga masyarakat.
Ketika aktivitas tambang berhenti, otomatis distribusi pasir juga lumpuh total.
“Biasanya sehari bisa beberapa kali jalan. Sekarang mobil cuma parkir, tidak ada muatan sama sekali,” katanya.
Tidak hanya sopir, dampak juga dirasakan para pekerja bongkar muat dan buruh harian yang selama ini ikut bekerja dalam distribusi pasir sungai.
Sejumlah proyek pembangunan rumah warga di Pacitan juga mulai terganggu akibat pasokan pasir terhenti. Material yang biasanya mudah didapat kini kosong sehingga pekerjaan pembangunan terpaksa dihentikan sementara.
“Saya gak bisa ngirim pasir ke proyek, jadi tuan rumah juga menghentikan pekerjaannya. Tukang bangunan akhirnya ikut berhenti kerja,” lanjut Arp.
Kondisi tersebut memunculkan efek domino terhadap ekonomi masyarakat kecil yang selama ini bergantung pada perputaran aktivitas tambang pasir Sungai Grindulu.
Warga mengaku memahami langkah penertiban yang dilakukan pemerintah dan aparat. Namun mereka berharap ada solusi yang tidak mematikan mata pencaharian masyarakat kecil.
“Yang terdampak bukan cuma penambang, tapi sopir, kuli angkut, tukang bangunan sampai warung-warung kecil juga ikut sepi,” ujar salah satu warga.
Masyarakat berharap pemerintah segera memberikan kepastian terkait nasib aktivitas tambang rakyat agar roda ekonomi warga kembali berjalan.
“Kalau terlalu lama, ekonomi masyarakat kecil bisa benar-benar hancur. Kami ini hanya cari makan untuk keluarga,” pungkasnya. (Ans)








0 Komentar