Refleksi Puasa dari Media Sosial di Ramadan: Menahan Lapar Sekaligus Menahan Diri dari Distraksi Digital

Foto atau Gambar dari penelusuran ai atau gambaran hasil ai sipenulis narasi

OPINI | lensanasional.com - Ramadan sering dipahami sebagai momentum menahan lapar dan dahaga. Namun di tengah kehidupan digital yang semakin intens, sebagian orang mulai memaknainya lebih luas: sebagai kesempatan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk media sosial.

Dalam sebuah tulisan reflektif yang beredar di grup WhatsApp, seorang akademisi dan ulama, Nadirsyah Hosen, mengangkat gagasan tentang “puasa dari media sosial” sebagai latihan pengendalian diri di era algoritma.

Tulisan tersebut menggambarkan bagaimana dunia digital terasa sangat personal. Setiap orang memiliki linimasa (feed) yang berbeda, disesuaikan oleh algoritma dengan selera, emosi, bahkan kerentanan penggunanya. Hal ini sering membuat seseorang tanpa sadar terus menggulir layar ponsel (scroll) dan mencari validasi dari respons di media sosial.

Menurut refleksi itu, kelelahan yang dirasakan banyak orang saat ini tidak selalu berasal dari pekerjaan, tetapi dari dorongan untuk selalu “terlihat”—terlihat produktif, stabil, dan bahagia. Padahal kenyataannya, kehidupan nyata tidak selalu seindah yang ditampilkan di dunia maya.

Ramadan disebut sebagai semacam “hard reset” bagi kebiasaan tersebut. Selain menahan makan dan minum, umat juga diajak menahan reaksi berlebihan terhadap berbagai rangsangan, termasuk komentar di media sosial, pencapaian orang lain, hingga dorongan untuk terus membandingkan diri.

Dalam tulisan itu juga disebutkan pandangan ulama klasik seperti Al-Ghazali yang dalam kitab Ihya Ulum al-Din menjelaskan bahwa tingkat puasa tertinggi adalah ketika mata, telinga, dan hati ikut berpuasa dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menjaga diri dari distraksi yang melemahkan jiwa.

Pemikiran serupa juga disampaikan oleh Ibn Qayyim al-Jawziyya dalam kitab Madarij al-Salikin yang menggambarkan hati manusia seperti sebuah bejana. Jika terlalu penuh oleh berbagai hal selain Tuhan, maka tidak ada lagi ruang bagi cahaya spiritual untuk masuk.

Dari refleksi tersebut muncul ajakan sederhana untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial selama Ramadan. Misalnya dengan menimbang niat sebelum membuat unggahan, memikirkan manfaat sebelum membagikan sesuatu, serta menahan diri untuk tidak bereaksi terhadap setiap hal yang muncul di linimasa.

Penulis juga menyarankan langkah kecil seperti membatasi notifikasi ponsel, kecuali dari orang-orang terdekat. Langkah ini dianggap sebagai cara sederhana untuk mengingatkan diri bahwa manusia tetap memiliki kendali atas dirinya, bukan dikendalikan oleh konten dan algoritma.

Tulisan itu juga diselingi humor tentang bagaimana algoritma media sosial sering terasa “terlalu tahu” kondisi psikologis seseorang. Misalnya ketika seseorang sedang merasa tidak percaya diri, tiba-tiba muncul unggahan orang lain yang tampak lebih sukses atau bahkan foto mantan yang sedang menjalankan ibadah umrah di bulan Ramadan.

Di balik nada santainya, refleksi tersebut menyampaikan pesan bahwa puasa tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga dapat menjadi proses “detoksifikasi eksistensial”—sebuah upaya untuk kembali menyadari bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, angka keterlibatan (engagement), atau citra yang dibangun di dunia maya.

Tulisan yang beredar melalui pesan berantai itu menjadi pengingat bahwa Ramadan dapat dimaknai sebagai waktu untuk memperlambat ritme hidup, menata kembali niat, dan menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan batin. (Ans)

Posting Komentar

0 Komentar

Terkini