![]() |
| Foto Dokumentasi susana kegiatan rontek gugah sahur di kabupaten Pacitan, Minggu, (08/03/2026) |
PACITAN | lensanasional.com – Tradisi tahunan rontek gugah sahur di Kabupaten Pacitan kembali menyemarakkan suasana bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Memasuki minggu ketiga pelaksanaan, antusiasme masyarakat tidak surut sedikit pun. Meski berbagai aturan telah diberlakukan, semangat para perontek tetap tinggi untuk menjaga tradisi khas Pacitan tersebut.
Pada Minggu dini hari (08/03/2026), belasan desa turut ambil bagian dalam rontek gugah sahur yang berkeliling kota. Cuaca malam yang cerah semakin menambah semarak suasana, sementara suara tabuhan rontek menggema di sepanjang jalur yang telah ditentukan.
Rontek gugah sahur sendiri merupakan tradisi masyarakat Pacitan untuk membangunkan warga agar bersiap melaksanakan sahur selama bulan Ramadhan. Tradisi ini berkembang menjadi ajang kreativitas sekaligus kebersamaan antarwarga desa.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah daerah bersama aparat keamanan telah menerapkan sejumlah aturan demi menjaga keamanan dan ketertiban. Rekayasa jalur pawai rontek juga dilakukan agar arus peserta tetap tertib. Selain itu, larangan membawa petasan maupun minuman keras telah disosialisasikan kepada seluruh peserta.
Meski demikian, di lapangan masih ditemukan sebagian peserta yang membawa kembang api atau petasan. Salah satu peserta rontek mengaku penggunaan kembang api sering dianggap menambah semangat dalam penampilan mereka.
“Kembang api itu membuat suasana dan semangat para penabuh rontek. Ya kami tetap berupaya menjaga keamanan, toh ini juga kebanggaan kami sebagai tim rontek malam ini,” ujar salah satu perontek yang ikut berjalan bersama rombongannya.
Dalam rute yang dilalui, seluruh peserta rontek dipastikan melintas di depan Pendopo Kabupaten Pacitan. Di beberapa titik lokasi aparat keamanan dari berbagai unsur bersiaga untuk memastikan kegiatan berlangsung aman dan kondusif.
Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Pacitan, Ratna Budianto, mengatakan bahwa pengamanan kegiatan melibatkan berbagai unsur dari pemerintah dan masyarakat.
“Dari unsur Forkopimda, TNI, polisi bahkan dari relawan RAPI selalu hadir mengawal rekan-rekan perontek gugah sahur dari masing-masing desa demi menjaga keamanan serta kondusivitas Pacitan,” ujarnya.
Kehadiran belasan kelompok rontek dari berbagai desa menjadikan pusat kota Pacitan semakin ramai dan meriah. Tradisi yang telah berlangsung, rontek gugah sahur ini tidak hanya menjadi sarana membangunkan sahur, tetapi juga menjadi kebanggaan budaya masyarakat Pacitan setiap bulan Ramadhan.
Pemerintah daerah berharap tradisi rontek gugah sahur tetap dilestarikan dengan tetap mengedepankan ketertiban, keamanan, serta semangat kebersamaan agar kegiatan budaya ini terus menjadi daya tarik khas Kabupaten Pacitan. (Ans)





0 Komentar