![]() |
| Foto Dokumentasi Rapat Koordinasi Lintas Sektoral dalam rangka cipta kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat. Bertempat di Cafe Kipokopi depan musium SBY-ANY Kamis (12/02/2026) |
PACITAN | Lensanasional.com – Menjelang Bulan Suci Ramadhan 1447 H/2026 M, Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) menggelar Rapat Koordinasi Lintas Sektoral dalam rangka cipta kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat. Bertempat di Cafe Kipokopi depan musium SBY-ANY Kamis, (12/02/2026). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai langkah antisipasi guna memastikan seluruh rangkaian aktivitas masyarakat selama Ramadhan, khususnya tradisi Rontek Gugah Sahur, berjalan aman, tertib, dan kondusif.
Rapat koordinasi lintas sektoral tersebut dihadiri unsur Forkopimda, di antaranya Kasatpol PP Kabupaten Pacitan, Kasat Intel Polres Pacitan Iptu Andhi Indra Septa, SH, Kasdim 0801 Kodim Pacitan, Camat Pacitan, Kepala Desa serta perwakilan tokoh masyarakat dan para penggiat rontek gugah sahur.
Dalam forum tersebut, Kasatpol PP Ardyan Wahyudi, S.STP, MM. menyampaikan sejumlah poin penting untuk dibahas dan akan dituangkan dalam Surat Edaran Pemerintah Daerah. Di antaranya:
-
Identifikasi potensi kerawanan di wilayah tertentu.
-
Pemantauan tamu maupun aktivitas masyarakat selama Ramadhan.
-
Larangan penggunaan petasan, mercon, dan kembang api.
-
Larangan peredaran dan konsumsi minuman keras (miras).
-
Pengaturan rute dan jadwal kegiatan Rontek Gugah Sahur per wilayah.
-
Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL), khususnya kuliner, dengan imbauan menjaga ketertiban dan estetika, termasuk menutup tirai saat waktu tertentu.
Ardyan menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga ketertiban dan keselamatan bersama. “Kami mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk saling mengingatkan dan menjaga suasana tetap kondusif menjelang dan selama Ramadhan,” tegasnya.
Mengapa Antisipasi Diperlukan?
Kasat Intel Polres Pacitan, Iptu Andhi Indra Septa, SH, menyampaikan bahwa potensi kerawanan umumnya dipicu oleh konsumsi miras, penggunaan mercon atau kembang api, serta kemungkinan gesekan antar kelompok, terutama saat pelaksanaan rontek gugah sahur.
Ia menegaskan bahwa dalam kegiatan rontek tidak diperbolehkan membawa atribut atau bendera organisasi tertentu guna mencegah provokasi. “Kami memprediksi potensi bentrokan bisa terjadi apabila ada miras, mercon, atau atribut yang memicu gesekan. Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak dini,” ujarnya.
Dikesempatan yang sama Kasdim 0801 Pacitan menegaskan kesiapan TNI membantu pengamanan dan berharap seluruh stakeholder dapat bersinergi menjaga stabilitas daerah.
Selain unsur pemerintah daerah dan aparat keamanan, kegiatan ini juga melibatkan para penggiat rontek gugah sahur yang mayoritas merupakan pemuda-pemudi dari berbagai desa di Pacitan. Mereka merupakan motor utama pelestarian tradisi tahunan tersebut.
Dalam sesi tanya jawab, para penggiat rontek secara terbuka menyampaikan komitmen mereka. Mereka sepakat bahwa Rontek Gugah Sahur harus tetap menjadi kebanggaan Pacitan dan berjalan aman, tertib, serta kondusif selama Bulan Suci Ramadhan.
Para penggiat mengakui bahwa “darah muda” memang tidak mudah untuk diatur, terlebih jika sudah menyangkut gengsi antar kelompok yang berpotensi memicu bentrokan. Bahkan ada ungkapan bahwa komunitas rontek dikenal sulit diatur, namun mudah ditata. Semakin banyak aturan terkadang dianggap sebagai tantangan tersendiri.
Namun demikian, seluruh peserta sepakat untuk mematuhi peraturan pemerintah daerah, terutama larangan miras, penggunaan mercon, serta pengaturan jalur dan waktu tampil guna menghindari gesekan antar desa.
Rapat koordinasi lintas sektoral ini dilaksanakan menjelang masuknya Bulan Suci Ramadhan 1447 H / 2026 M, sebagai bagian dari langkah preventif sebelum rangkaian kegiatan masyarakat dimulai.
Pemerintah daerah akan menerbitkan Surat Edaran resmi sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan selama Ramadhan. Pengaturan jalur dan jadwal rontek akan dibagi per wilayah untuk meminimalisir pertemuan massa dalam jumlah besar yang berpotensi menimbulkan benturan.
Pendekatan yang dilakukan tidak semata-mata penegakan aturan, tetapi juga pembinaan dan komunikasi dengan komunitas pemuda sebagai pelaku utama tradisi.
Rontek sebagai Ikon Seni dan Kemandirian Pemuda
Rontek Gugah Sahur bukan sekadar tradisi membangunkan sahur, melainkan ekspresi seni, kreativitas, dan kebanggaan serta kemandirian pemuda Pacitan. Atraksi musik tradisional yang dinamis serta kekompakan antar anggota menjadi daya tarik tersendiri dan telah menjadikan rontek sebagai ikon budaya Pacitan, Jawa Timur.
Dengan komitmen bersama antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan para penggiat rontek, diharapkan Ramadhan 1447 H di Pacitan berlangsung penuh khidmat, aman, dan tertib, sekaligus memperkuat citra Rontek Gugah Sahur sebagai tradisi kebanggaan yang terus lestari dari generasi ke generasi. (Ans)





0 Komentar