Berawal dari Ngopi Bareng, Petani Organik Pacitan Bangun Sahabat Tani dan Perluas Pasar Hasil Panen

Foto Dokumentasi salah satu petani yang menunjukkan hasil panen buah melon Organik yang renyah dan manis, di stand pasar organik yang berlokasi di halaman DKPP Pacitan. Rabu, (04/11/2026)

PACITAN | lensanasional.com – Gerakan pertanian organik di Kabupaten Pacitan mulai menunjukkan perkembangan. Berawal dari obrolan sederhana sambil ngopi bersama sejumlah petani yang telah mengantongi sertifikasi organik, kini tumbuh komunitas petani yang berupaya memperluas pemasaran hasil pertanian sehat melalui Pasar Tani Organik.

Hal tersebut terungkap saat awak media berkunjung langsung ke lokasi Pasar Tani Organik, Rabu (4/11/2026). Dalam kunjungan tersebut, awak media bertemu dan berbincang dengan sejumlah pelaku pertanian organik dari berbagai wilayah di Kabupaten Pacitan.

Agus Rustamto, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DKPP Pacitan sekaligus pembina Sahabat Tani, mengungkapkan bahwa embrio gerakan tersebut berawal dari kebersamaan para petani organik yang telah memiliki sertifikasi dari lembaga sertifikasi organik LeSOS Mojokerto.

Dari obrolan santai yang awalnya hanya berlangsung saat ngopi bersama, muncul gagasan untuk menyatukan para petani dalam sebuah wadah. Tujuannya tidak sekadar mempererat komunikasi, tetapi juga membangun kekuatan bersama dalam mengembangkan pertanian organik sekaligus memasarkan hasil produksinya.

Kini, para petani organik dari sejumlah kecamatan di Pacitan mulai berkumpul dan berpartisipasi dalam Pasar Tani Organik yang difasilitasi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pacitan.

Pasar tersebut menjadi ruang pertemuan antara petani sebagai produsen dengan masyarakat sebagai konsumen. Berbagai hasil pertanian organik dipasarkan secara langsung sehingga konsumen bisa mengenal produk sekaligus mengetahui proses budidayanya.

Harga Beras Organik Lebih Tinggi

Salah satu hal menarik dari pasar ini adalah perbedaan harga antara beras konvensional dan beras organik.

Jika beras biasa di pasaran berada di kisaran Rp14.000 per kilogram, beras organik dipasarkan dengan harga sekitar Rp17.000 hingga Rp20.000 per kilogram.

Perbedaan harga tersebut tidak terlepas dari proses budidaya yang membutuhkan perlakuan berbeda. Pertanian organik mengutamakan penggunaan pupuk dan bahan pengendali hama yang berasal dari bahan alami, serta menghindari penggunaan bahan kimia sintetis sesuai standar organik yang diterapkan.

Bagi petani, harga jual yang lebih tinggi menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil panen. Namun, tantangannya adalah memperluas pemahaman masyarakat mengenai produk organik agar memiliki pasar yang semakin kuat.

Karena itu, keberadaan Pasar Tani Organik menjadi salah satu upaya memperkenalkan hasil produksi petani lokal secara langsung kepada masyarakat.

Pacitan Mulai Bangun Ekosistem Pertanian Organik

Perkembangan pasar organik di Pacitan sebenarnya bukan langkah yang muncul secara tiba-tiba. DKPP sebelumnya telah memfasilitasi Pasar Tani sebagai sarana promosi dan pemasaran produk pertanian lokal.

Pada pertengahan Oktober 2026, kegiatan Pasar Tani di lingkungan DKPP Pacitan melibatkan sekitar 12 petani organik. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar sekaligus mengenalkan produk pertanian yang dibudidayakan tanpa bahan kimia sintetis.

Kepala DKPP Pacitan, Sugeng Santoso, dalam pemberitaan sebelumnya menyampaikan bahwa Pasar Tani bukan semata-mata tempat transaksi, melainkan juga sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pertanian organik.

Bahkan, Pacitan telah memiliki asosiasi petani organik yang tercatat memperoleh sertifikasi dari LeSOS dengan standar SNI 6729:2016 untuk ruang lingkup komoditas padi. Sertifikat asosiasi tersebut tercatat diterbitkan pada 21 November 2025 dan berlaku hingga 20 November 2028.

Pengembangan pertanian organik juga memiliki potensi ekonomi yang lebih luas. Salah satu contohnya adalah gula aren organik dari Desa Temon, Kecamatan Arjosari, yang pada Februari 2026 berhasil menembus pasar ekspor ke Belanda, Malaysia, dan Australia.

Capaian tersebut menjadi gambaran bahwa produk pertanian organik asal Pacitan memiliki peluang untuk berkembang, tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga menjangkau pasar yang lebih luas.

Melalui kebersamaan petani, pendampingan pemerintah daerah, serta keberadaan Pasar Tani Organik, harapannya semakin banyak petani Pacitan yang tertarik menerapkan sistem pertanian berkelanjutan.

Dari obrolan sederhana sambil ngopi, sebuah gerakan mulai tumbuh. Kini tantangannya adalah menjaga konsistensi produksi, memperluas jaringan pemasaran, serta membangun kepercayaan konsumen terhadap produk organik lokal Pacitan. (Ans)

Posting Komentar

0 Komentar

Terkini