Inovatif dan Bukan Sekadar Seremoni, Begini Cara Munirul Ikhwan Menggerakkan Pariwisata Pacitan


PACITAN | lensanasional.com — Membangun pariwisata tidak cukup hanya dengan mengandalkan keindahan destinasi. Dibutuhkan kreativitas, inovasi, promosi yang konsisten, serta kemampuan mengemas setiap kegiatan agar memiliki dampak bagi masyarakat.

Hal itulah yang terlihat dari langkah Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Pacitan, Munirul Ikhwan.

Teranyar, Disparbudpora sukses menggelar rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di kawasan Goa Luweng Ombo, Desa Kalak, Kecamatan Donorojo. Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi seremoni, tetapi sekaligus menjadi panggung untuk memperkenalkan potensi wisata Pacitan melalui berbagai aktivitas yang melibatkan olahraga, komunitas, petualangan, budaya hingga promosi destinasi.

Cara seperti ini membuat sebuah kegiatan pemerintah memiliki nilai lebih. Masyarakat tidak hanya datang untuk mengikuti acara, tetapi juga mengenal destinasi dan kemudian ikut menyebarluaskan potensi Pacitan melalui media sosial maupun cerita dari mulut ke mulut.

Pendekatan Munirul juga terlihat di lingkungan kantornya. Sebuah ruangan yang sebelumnya kurang optimal dimanfaatkan kemudian disulap menjadi tempat ngopi dengan suasana santai.

Ruangan sederhana itu kini dapat digunakan untuk menerima tamu, berdiskusi dengan komunitas, pelaku wisata maupun mitra kerja dalam suasana yang lebih informal.

Bagi sebuah birokrasi, langkah tersebut terlihat sederhana, tetapi memiliki pesan penting. Tidak semua inovasi harus membutuhkan anggaran besar. Terkadang yang dibutuhkan adalah kemauan melihat potensi dari sesuatu yang sudah tersedia.

Dalam sejumlah kesempatan, Munirul juga menyampaikan bahwa masih banyak agenda yang belum terlaksana dan telah masuk dalam rencana ke depan. Salah satunya adalah menggandeng komunitas "King" pecinta roda dua klasik  untuk menggelar pertemuan tingkat nasional di Pacitan.

Menurut rangkuman redaksi dari penjelasan Munirul. Rabu, (26/08/2026), berbagai agenda tersebut diarahkan bukan sekadar untuk membuat kegiatan yang ramai, melainkan memiliki tujuan yang lebih besar: mendongkrak PAD sektor pariwisata, memperluas promosi Pacitan di tingkat nasional hingga internasional, serta menggerakkan ekonomi masyarakat.

Sebab, ketika sebuah komunitas dari berbagai daerah datang ke Pacitan, dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pariwisata. Mereka membutuhkan penginapan, kuliner, transportasi, oleh-oleh hingga destinasi yang dikunjungi. Perputaran ekonomi pun ikut bergerak.

Data terbaru menunjukkan PAD sektor pariwisata Pacitan pada semester pertama 2026 telah mencapai sekitar Rp 6,67 miliar, meningkat lebih dari 38 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pantai Klayar dan Pantai Watu Karung menjadi dua destinasi yang turut menopang geliat kunjungan wisata.

Namun bagi Munirul, capaian tersebut bukan alasan untuk berhenti.

Justru masih banyak ruang yang harus digarap, mulai dari event, komunitas, promosi digital, olahraga, budaya hingga pengembangan destinasi yang belum sepenuhnya tergali.

Dari pendekatan tersebut, ada pelajaran yang bisa dipetik oleh pimpinan perangkat daerah lainnya. Setiap kegiatan seharusnya tidak berhenti pada terlaksananya acara, tetapi harus dipikirkan manfaat lanjutan bagi daerah dan masyarakat.

Sebuah upacara bisa menjadi promosi wisata. Sebuah komunitas bisa menjadi jaringan promosi. Sebuah ruangan kantor bisa menjadi ruang lahirnya gagasan.

Pada akhirnya, kepemimpinan di birokrasi bukan hanya tentang menjalankan rutinitas, tetapi juga tentang berani melihat peluang, menciptakan inovasi, membangun komunikasi dan mengubah setiap kegiatan menjadi sesuatu yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Itulah cara Munirul Ikhwan mencoba membawa pariwisata Pacitan: bukan sekadar menjual tempat, tetapi menjual pengalaman, membangun jejaring, memperluas promosi, dan menggerakkan ekonomi masyarakat. (Red). 

Posting Komentar

0 Komentar

Terkini