MADIUN | lensanasional.com — Peringatan kemerdekaan tahun ini tidak sekadar menjadi seremoni. Enam daerah di kawasan Pawitandirogo—Pacitan, Ngawi, Magetan, Madiun, Ponorogo, dan Kota Madiun—mulai kembali menempatkan kerja sama kawasan sebagai agenda strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan.
Gagasan itu mengemuka dalam Sarasehan Kemerdekaan Pawitandirogo 2026 yang digelar di Kota Madiun. Forum tahunan tersebut dibuka Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dan dihadiri enam kepala daerah se-Pawitandirogo, termasuk Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji.
Mengusung tema “Pengembangan Kawasan dan Pemberdayaan Ekonomi Pawitandirogo”, sarasehan kali ini membawa pembahasan yang jauh lebih luas dari sekadar pertemuan antarkepala daerah. Tantangannya adalah bagaimana enam wilayah yang memiliki karakter dan potensi berbeda dapat bergerak sebagai satu kawasan yang saling terhubung.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) hadir sebagai keynote speaker. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya juga menjadi pembicara dalam forum tersebut.
Kehadiran dua menteri itu mempertegas bahwa pengembangan kawasan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik. Infrastruktur harus bertemu dengan penguatan ekonomi masyarakat, pariwisata, industri kreatif, serta potensi lokal yang selama ini menjadi kekuatan masing-masing daerah.
Bagi Pacitan, konektivitas menjadi salah satu persoalan penting. Letak geografis yang berada di ujung barat daya Jawa Timur membuat akses dan keterhubungan antardaerah menjadi faktor yang sangat menentukan kecepatan pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, kerja sama Pawitandirogo memiliki arti strategis. Bukan hanya bagaimana satu daerah membangun wilayahnya sendiri, tetapi bagaimana pembangunan tersebut dapat terkoneksi dengan daerah tetangga sehingga menciptakan rantai ekonomi yang lebih besar.
Pacitan memiliki potensi pariwisata, kelautan, pertanian, UMKM hingga ekonomi kreatif. Namun potensi tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur, akses pasar dan konektivitas kawasan agar tidak berhenti sebagai potensi.
Di sisi lain, daerah-daerah Pawitandirogo juga memiliki keunggulan yang dapat saling melengkapi. Jika konektivitas dan kolaborasi benar-benar dibangun, kawasan ini berpeluang menjadi salah satu simpul pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Timur bagian barat.
Di sinilah tantangan sebenarnya.
Sarasehan tidak boleh berhenti pada forum tahunan, pidato, dan dokumentasi seremonial. Kesepahaman enam kepala daerah harus diterjemahkan menjadi program konkret yang memiliki target, indikator keberhasilan, serta dampak yang bisa dirasakan masyarakat.
Sebab pembangunan kawasan bukan tentang siapa yang paling cepat maju, tetapi bagaimana daerah-daerah yang berdekatan bisa tumbuh bersama.
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji hadir bersama Wakil Bupati Gagarin Sumrambah, unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, Asisten Sekda, Plt. Kepala Bapperida, Kepala Dinas PUPR serta Kepala Dinas Pariwisata.
Kehadiran jajaran tersebut menunjukkan bahwa Pacitan tidak ingin melihat Pawitandirogo hanya sebagai forum silaturahmi antarpemerintah daerah. Ada kepentingan yang lebih besar: membuka konektivitas, memperluas peluang ekonomi, dan memastikan potensi Pacitan menjadi bagian dari kekuatan ekonomi kawasan.
Kemerdekaan, pada akhirnya, bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Bagi daerah, kemerdekaan juga berarti kemampuan membangun masa depan dengan kekuatan sendiri—dan bekerja bersama ketika persoalan yang dihadapi tidak lagi mengenal batas administratif.
Pawitandirogo punya enam daerah. Tantangannya kini satu: bagaimana keenamnya tidak berjalan sendiri-sendiri.
Sumber: Prokopim Kabupaten Pacitan (Red)






0 Komentar