![]() |
| Foto Dokumentasi lomba Musik Perkusi Dusun Bengkal. Sabtu, (22/08/2026) |
PACITAN | lensanasional.com — Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Tanjungsari, Kabupaten Pacitan, terus bergulir. Kali ini, warga Dusun Bengkal, RW 04, menghadirkan hiburan sekaligus ruang kreativitas melalui Lomba Perkusi Antar-RT yang berlangsung meriah pada malam hari.
Kegiatan tersebut diikuti lima kelompok perwakilan dari lima RT yang berada di Dusun Bengkal RW 04, Desa Tanjungsari. Bukan menggunakan seperangkat alat musik profesional, para peserta justru ditantang mengolah berbagai barang sederhana dan peralatan rumah tangga menjadi instrumen musik.
Panci, wajan, botol, timba dan sejumlah barang bekas lainnya disulap menjadi alat musik perkusi. Dari benda-benda yang sehari-hari mudah ditemukan itu, para peserta menyusun ritme, ketukan, tempo dan kekompakan hingga menghasilkan pertunjukan yang menarik perhatian penonton.
Suasana semakin semarak ketika masing-masing kelompok tampil di hadapan warga. Kreativitas, kekompakan serta kemampuan mengolah suara menjadi komposisi musik menjadi bagian yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menunjukkan bahwa seni dapat lahir dari lingkungan dan bahan-bahan sederhana.
Perkusi sendiri menjadi salah satu bentuk seni musik yang mengedepankan pengolahan bunyi dan ritme. Dalam kegiatan warga kali ini, seni tersebut menjadi media ekspresi sekaligus sarana mempererat kebersamaan masyarakat dalam momentum peringatan kemerdekaan.
Antusiasme warga pun terlihat begitu besar. Tidak hanya masyarakat Dusun Bengkal yang datang menyaksikan, kegiatan tersebut juga menarik perhatian warga dari berbagai wilayah di Desa Tanjungsari.
Keramaian penonton membuat lomba terasa seperti pesta rakyat. Anak-anak, remaja hingga orang dewasa ikut menikmati setiap penampilan peserta. Tepuk tangan dan sorak dukungan terdengar setiap kelompok menyelesaikan penampilannya.
Setelah seluruh peserta tampil, panitia kemudian menetapkan hasil perlombaan. RT 03 berhasil meraih Juara I, disusul RT 04 sebagai Juara II dan RT 01 sebagai Juara III. Sementara RT 05 meraih Harapan I dan RT 02 mendapatkan Harapan II.
Lebih dari sekadar perebutan juara, lomba tersebut menjadi gambaran bagaimana semangat kemerdekaan dapat diterjemahkan melalui kreativitas masyarakat. Barang-barang yang biasanya dianggap tidak memiliki nilai seni justru dapat menghasilkan pertunjukan ketika dipadukan dengan ide, latihan dan kekompakan.
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, lomba seperti ini layak dipertahankan dan dikembangkan pada peringatan HUT RI tahun-tahun mendatang.
“Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus dilanjutkan tahun depan dan dibuat lebih baik lagi. Meskipun yang hari ini juga sudah baik dan masyarakat sangat antusias,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan semacam ini memiliki nilai lebih karena mampu mempertemukan masyarakat dalam suasana yang santai, menghibur sekaligus membangun kebersamaan.
“Yang penting bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi bagaimana warga bisa berkumpul, berkreasi dan saling mendukung. Anak-anak muda juga punya ruang untuk menunjukkan kreativitasnya,” tambahnya.
Semangat tersebut menjadi bagian penting dari perayaan kemerdekaan di tingkat dusun. Sebab, kemeriahan HUT RI tidak selalu harus diwujudkan melalui acara besar. Dari lingkungan terkecil, semangat gotong royong, kreativitas dan persaudaraan justru dapat tumbuh dan terasa lebih dekat dengan masyarakat.
Lomba perkusi di Dusun Bengkal akhirnya bukan hanya menyajikan hiburan malam bagi warga. Di balik suara panci, wajan, botol dan timba yang dipukul mengikuti irama, tersimpan pesan sederhana bahwa kemerdekaan juga dapat dirayakan dengan kreativitas, kebersamaan dan kegembiraan bersama. (Ans)






0 Komentar