Semarak Ronthek Gugah Sahur di Pacitan: Tradisi Lokal Menghidupkan Malam Ramadhan

Foto Dokumentasi antusiasme masyarakat di depan pendopo kabupaten Pacitan menantikan Ronthek Gugah Sahur melintas. Minggu, (15/03/2026)

PACITAN | lensanasional.com – Memasuki pekan terakhir bulan suci Ramadhan, suasana malam di Pacitan semakin semarak dengan digelarnya tradisi Ronthek Gugah Sahur yang menjadi salah satu kearifan lokal masyarakat setempat.

Tradisi yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Pacitan ini kembali menggema di berbagai sudut kota. Setiap malam, ratusan warga dari berbagai desa turun ke jalan mengikuti arak-arakan ronthek, membawa alat musik tradisional, bendera, hingga obor yang menyala terang di tengah malam.

Antusiasme masyarakat terlihat dari padatnya rute yang telah disepakati bersama. Iring-iringan peserta melintas hingga di depan Pendopo Kabupaten Pacitan, menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu titik yang paling ramai disaksikan warga.

Tradisi Ronthek Gugah Sahur sendiri merupakan kegiatan membangunkan warga untuk sahur dengan cara memainkan alat musik khas yang terbuat dari bambu atau benda-benda sederhana lainnya. Namun seiring waktu, kegiatan ini berkembang menjadi sebuah pertunjukan budaya yang menampilkan kreativitas dan semangat kebersamaan masyarakat.

Berbagai kelompok dari desa-desa di Pacitan berlomba-lomba menampilkan ronthek terbaik mereka. Mulai dari aransemen musik yang unik, koreografi barisan peserta, hingga dekorasi properti yang meriah. Tidak sedikit peserta yang rela merogoh kocek pribadi demi menyuguhkan penampilan terbaik bagi masyarakat.

Salah seorang pengunjung yang menyaksikan kegiatan tersebut mengungkapkan bahwa tradisi ini sangat menarik dan selalu dinanti setiap bulan Ramadhan.

“Ronthek Gugah Sahur ini sangat menarik. Apalagi malam ini merupakan malam Minggu terakhir di bulan Ramadhan, tentu suasananya akan semakin meriah karena masyarakat dari berbagai desa hadir untuk menampilkan yang terbaik,” ujarnya.

Ia juga berharap pemerintah daerah dapat terus memberikan perhatian dan apresiasi kepada masyarakat yang aktif melestarikan tradisi tersebut.

“Semoga pemerintah terus memberikan apresiasi kepada masyarakat yang berkecimpung dalam kegiatan ini sehingga tradisi Ronthek Gugah Sahur bisa terus berkembang menjadi lebih baik, tetap aman, terkendali, dan mampu menjaga Pacitan tetap kondusif,” tambahnya.

Di tengah dinamika situasi global yang tidak menentu, masyarakat Pacitan justru menunjukkan semangat kebersamaan dalam menjalankan ibadah puasa. Kehadiran Ronthek Gugah Sahur menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya lokal tetap hidup dan menjadi perekat sosial masyarakat.

Pemerintah daerah juga memberikan perhatian khusus terhadap penyelenggaraan tradisi ini. Pengamanan dilakukan secara terpadu oleh berbagai pihak mulai dari unsur kewaspadaan daerah, Satuan Polisi Pamong Praja, Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, hingga unsur masyarakat seperti Radio Antar Penduduk Indonesia serta para tokoh masyarakat.

Sinergi berbagai stakeholder tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan tetap kondusif.

Dengan semangat gotong royong dan kebanggaan terhadap budaya daerah, tradisi Ronthek Gugah Sahur di Pacitan tidak hanya menjadi ajang hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi simbol kuatnya kearifan lokal yang terus dijaga lintas generasi. Tradisi ini sekaligus memperkuat identitas budaya daerah di tengah perkembangan zaman. (Ans)

Posting Komentar

0 Komentar

Terkini