Tasyakuran Laut Nelayan Tamperan Pacitan Sambut Tahun Baru Hijriah



PACITAN | lensanasional.com – Ribuan masyarakat nelayan Tamperan menggelar Tasyakuran Laut sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan rezeki hasil laut sekaligus upaya melestarikan tradisi budaya warisan leluhur dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriah 1448 H. Kegiatan yang menjadi bagian dari Festival Nelayan 2026 tersebut berlangsung di kawasan UPT Pelabuhan Perikanan Tamperan, Senin (15/6).


Wakil Bupati Pacitan, Gagarin Sumrambah, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa tradisi Tasyakuran Laut tidak hanya menjadi sarana ungkapan syukur kepada Allah SWT, tetapi juga merupakan kearifan lokal yang memiliki nilai budaya tinggi dan perlu terus dijaga keberlangsungannya.


Menurutnya, tradisi yang telah berlangsung turun-temurun tersebut menjadi identitas masyarakat pesisir sekaligus media edukasi bagi generasi muda agar tetap menghargai budaya dan menjaga kelestarian sumber daya laut.

“Kegiatan ini bukan hanya bentuk rasa syukur, tetapi juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk menjaga laut sebagai sumber kehidupan masyarakat nelayan. Pergantian tahun merupakan momentum untuk introspeksi dan memperbaiki diri menjadi lebih baik,” ujar Wabup Gagarin.

 

Pada kesempatan itu, ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga ekosistem laut dengan menghindari praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan.

“Mari kita jaga laut dan hindari illegal fishing yang dapat merusak habitat serta mengancam keberlanjutan sumber daya perikanan,” tambahnya.

 

Kabupaten Pacitan sendiri dikenal memiliki potensi kelautan dan perikanan yang besar. Dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 70 mil yang membentang di tujuh kecamatan dan 26 desa pesisir, wilayah ini menyimpan kekayaan sumber daya ikan yang beragam dan menjadi salah satu sektor penopang perekonomian masyarakat.


Sementara itu, sesepuh nelayan Tamperan, Imam Haryono, menegaskan pentingnya menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Menurutnya, perkembangan zaman tidak boleh menghilangkan nilai-nilai budaya yang menjadi jati diri masyarakat.

“Zaman pasti berubah, tetapi budaya jangan sampai ikut hilang. Tradisi seperti ini harus tetap dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

 

Rangkaian Tasyakuran Laut diawali dengan berkumpulnya masyarakat nelayan di halaman UPT Pelabuhan Perikanan Tamperan untuk mengikuti doa bersama. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Tremas, KH Luqman Haris Dimyati.


Setelah menikmati makan bersama, masyarakat nelayan melakukan arak-arakan tumpeng menuju kawasan pantai. Prosesi kemudian ditutup dengan larung tumpeng ke laut sebagai simbol ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT sekaligus harapan agar para nelayan senantiasa diberikan keselamatan dan keberkahan dalam mencari nafkah.

Tasyakuran Laut merupakan salah satu agenda utama dalam Festival Nelayan 2026 yang diselenggarakan untuk menyambut Tahun Baru Hijriah 1448 H. Selain prosesi tasyakuran, festival juga dimeriahkan dengan pengajian akbar dan kegiatan bakar ikan massal yang melibatkan masyarakat pesisir serta berbagai unsur pemerintah daerah.


Melalui kegiatan ini, masyarakat nelayan Tamperan berharap tradisi yang sarat nilai religius, sosial, dan budaya tersebut dapat terus lestari serta menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkuat identitas Kabupaten Pacitan sebagai daerah maritim yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal. (Ans)

Posting Komentar

0 Komentar

Terkini