Pacitan Pacu Lompatan Mutu Pendidikan Lewat Integrasi Madin dan Sekolah Formal

Foto Dokumentasi Kepala Dinas pendidikan kabupaten Pacitan Khemal Pandu pratikna


PACITAN| lensanasional.com - Pemerintah Kabupaten Pacitan terus memacu lompatan kualitas pendidikan dengan menghadirkan terobosan integrasi Madrasah Diniyah (Madin) ke dalam sistem pendidikan formal. Kebijakan ini dirancang bukan sekadar sebagai pelengkap kurikulum, melainkan sebagai strategi besar membentuk generasi unggul yang cerdas secara akademik sekaligus kuat secara moral.


Di tengah gempuran era digital, derasnya arus informasi, dan krisis keteladanan, pendidikan tak lagi cukup hanya mengajarkan angka dan teori. Pacitan membaca tantangan ini dengan berani: membangun sistem pendidikan yang menyatukan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai adab, akhlak, dan spiritualitas.


Kepala Dinas Pendidikan Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, menegaskan bahwa Madin memiliki posisi strategis dalam membentengi karakter peserta didik. Menurutnya, pendidikan yang kuat harus berangkat dari keseimbangan antara kecerdasan dan kepribadian.


“Integrasi Madin dengan sekolah formal adalah upaya membangun pendidikan yang utuh. Anak-anak tidak hanya diajari berpikir, tetapi juga diajari bagaimana bersikap,” ujar Khemal, Rabu (14/1/2026).


Ia menekankan bahwa pola integrasi ini bukan formalitas administratif, melainkan desain pembelajaran kolaboratif. Di sekolah, siswa ditempa dengan sains, matematika, teknologi, dan keterampilan abad 21. Sementara di Madin, mereka dibimbing untuk memahami nilai kejujuran, tanggung jawab, dan etika kehidupan.


Pendekatan ini secara perlahan meruntuhkan sekat lama antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Ilmu pengetahuan tidak lagi berdiri kering dari nilai, sementara ajaran agama tidak berhenti pada teori, tetapi hidup dalam praktik keseharian.


Model ini juga memperkuat peran guru dan ustaz sebagai satu barisan pendidik. Pesan moral, disiplin, dan semangat belajar disampaikan dengan satu suara, menciptakan lingkungan pendidikan yang konsisten dan berkelanjutan.


“Di sinilah pendidikan benar-benar bekerja. Anak-anak dipersiapkan bukan hanya untuk lulus ujian, tetapi untuk menghadapi kehidupan,” jelas Khemal.


Lebih jauh, Pemkab Pacitan memandang integrasi ini sebagai investasi sosial jangka panjang. Karakter yang dibangun sejak dini diyakini menjadi fondasi bagi lahirnya sumber daya manusia yang berintegritas, tangguh, dan siap berkontribusi bagi daerah maupun bangsa.


Kebijakan ini pun tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh sebagai gerakan kultural yang melibatkan sekolah, Madin, guru, orang tua, dan masyarakat dalam satu visi: menciptakan generasi Pacitan yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing tinggi.


Dengan langkah ini, Pacitan tak hanya membangun sistem pendidikan, tetapi juga sedang menata masa depan—tempat kecerdasan dan karakter berjalan seiring sebagai penentu kemajuan daerah. (Ans)

 

Posting Komentar

0 Komentar

Terkini