SMKN 3 Pacitan Bekali Guru dan Siswi Keterampilan Pemulasaran Jenazah Putri

Pelatihan pemulasaran jenazah perempuan yang digelar di Masjid Al-Ihsan, lingkungan sekolah SMKN 3 Pacitan, Jumat (25/9/2026).

PACITAN | lensanasional.com – SMK Negeri 3 Pacitan terus memperkuat pendidikan karakter dan keterampilan kehidupan bagi guru /Darma wanita serta peserta didiknya. Salah satunya melalui pelatihan pemulasaran jenazah perempuan yang digelar di Masjid Al-Ihsan, lingkungan sekolah SMKN 3 Pacitan, Jumat (25/9/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan dua pemateri dari Yayasan Janaiz Jannah, yakni Ustazah Eny Setyowati dan Ustazah Emy. Pelatihan tidak hanya memberikan pemahaman secara teori, tetapi juga menitikberatkan pada praktik langsung tata cara pemulasaran jenazah perempuan.

Kepala SMKN 3 Pacitan, Aris Sunarno, S.Pd., M.M., mengatakan praktik menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, pemahaman mengenai pemulasaran jenazah akan lebih mudah dikuasai apabila peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan, tetapi juga melihat dan mempraktikkan secara langsung tahapan-tahapannya.

“Lebih akan dipahami ketika ada praktik,” ujar Aris.

Meski demikian, praktik tetap diimbangi dengan pembekalan teori. Peserta diberikan pemahaman mengenai hal-hal yang harus dilakukan maupun yang tidak boleh dilakukan dalam proses pemulasaran jenazah, sehingga keterampilan yang diperoleh tidak sekadar bersifat teknis, tetapi juga sesuai dengan tuntunan yang semestinya.

Aris menjelaskan, program pelatihan pemulasaran jenazah perempuan tersebut sebenarnya telah lama direncanakan oleh pihak sekolah. Gagasan itu muncul dari masukan sejumlah guru perempuan yang melihat masih adanya persoalan di tengah masyarakat ketika menghadapi kematian anggota keluarga perempuan.

“Program pemulasaran jenazah wanita atau perempuan ini sebenarnya sudah lama kita programkan. Dasarnya adalah masukan dari guru putri, khususnya karena masih banyak di lingkungan kita ketika ada jenazah perempuan yang merawat justru Pak Modin,” jelasnya.

Menurut Aris, kondisi tersebut menjadi perhatian karena pemulasaran jenazah perempuan semestinya dapat dilakukan oleh keluarga atau perempuan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai.

Pemulasaran tidak berhenti pada proses memandikan jenazah, tetapi juga mencakup mengafani hingga tahapan berikutnya sesuai ketentuan yang berlaku.

Karena itu, sekolah memandang penting memberikan bekal kepada guru, khususnya guru perempuan, sekaligus kepada peserta didik putri. Harapannya, pengetahuan tersebut dapat menjadi keterampilan yang bermanfaat ketika suatu saat keluarga atau lingkungan terdekat mereka menghadapi musibah kematian.

“Intinya, ada masukan dari guru untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru, termasuk anak-anak putri. Bilamana nanti ada keluarga kita yang meninggal, kita sudah tahu bagaimana cara pemulasaran jenazahnya,” terang Aris.

Bukan Sekadar Pengetahuan, tetapi Keterampilan Hidup

Pelatihan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan di sekolah tidak hanya berkutat pada kemampuan akademik dan kompetensi kejuruan. Peserta didik juga perlu dibekali keterampilan sosial, keagamaan, serta kecakapan hidup yang bersentuhan langsung dengan realitas masyarakat.

Pemulasaran jenazah merupakan salah satu keterampilan yang selama ini belum banyak diberikan secara praktis di lingkungan pendidikan formal. Padahal, keterampilan tersebut memiliki nilai sosial dan keagamaan yang kuat.

Dengan adanya pelatihan di lingkungan sekolah, peserta didik putri diharapkan tidak lagi hanya mengetahui pemulasaran jenazah dari penjelasan atau teori, tetapi memiliki gambaran nyata mengenai tahapan yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi tersebut.

Sementara itu, salah satu pemateri, Ustazah Eny, berharap kegiatan serupa tidak berhenti di SMKN 3 Pacitan. Menurutnya, pelatihan pemulasaran jenazah perempuan dapat dikembangkan lebih luas dan menjangkau sekolah-sekolah lain.

“Harapannya pelatihan ini bisa terus berkembang sampai di SMA/SMK se-Kabupaten Pacitan,” ujar Eny.

Harapan tersebut membuka peluang agar pendidikan pemulasaran jenazah perempuan dapat menjadi bagian dari penguatan pendidikan karakter dan kecakapan hidup di lingkungan sekolah.

Bagi SMKN 3 Pacitan, kegiatan ini bukan sekadar agenda pelatihan keagamaan. Lebih jauh, sekolah ingin memastikan bahwa guru dan peserta didik memiliki bekal pengetahuan yang dapat digunakan ketika berhadapan dengan salah satu fase kehidupan yang pasti dihadapi setiap manusia.

Dari masjid sekolah, keterampilan sederhana namun penting itu dikenalkan melalui teori dan praktik. Tujuannya jelas: agar ketika keluarga membutuhkan, mereka tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi juga mampu melaksanakannya dengan benar, tertib, dan penuh penghormatan kepada jenazah. (Red.) 

Posting Komentar

0 Komentar

Terkini