UPT PJJ Pacitan Perkuat Disiplin dan Etos Kerja Pegawai

UPT PJJ Pacitan, Ir. Budi Harisantoso, ST., MT., dalam apel pagi yang dilanjutkan dengan briefing dan pengarahan kepada seluruh pegawai, Senin, (14/09/2026) Pagi.

PACITAN | lensanasional.com – Upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik tidak hanya bertumpu pada kemampuan teknis. Bagi jajaran UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan (PJJ) Pacitan, Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur, karakter, disiplin, etika dan kepedulian menjadi fondasi penting dalam menjalankan tugas.

Hal itu ditekankan Kepala UPT PJJ Pacitan, Ir. Budi Harisantoso, ST., MT., dalam apel pagi yang dilanjutkan dengan briefing dan pengarahan kepada seluruh pegawai, Senin pagi.

Briefing tersebut diikuti seluruh unsur pegawai, baik PNS, PPPK maupun tenaga outsourcing. Kegiatan pengarahan secara berkala itu menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bersama bahwa setiap individu memiliki peran dalam menentukan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Budi menegaskan, karakter dalam bekerja bukan sekadar persoalan kedisiplinan hadir dan menjalankan rutinitas. Lebih jauh, karakter menyangkut loyalitas, etos kerja, etika, peningkatan kinerja serta kesadaran untuk menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.

“Kesadaran karakter dalam bekerja itu sangat penting. Itu menjadi fundamental atau dasar dalam kita melaksanakan kegiatan sehari-hari, dalam pelayanan kepada masyarakat maupun memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara,” kata Budi.

Menurutnya, ketika nilai-nilai tersebut telah tertanam dalam diri pegawai, maka karakter akan berkembang menjadi kepribadian. Kondisi itu membuat kualitas kerja tidak mudah berubah hanya karena pergantian pimpinan maupun perubahan aturan organisasi.

“Kalau sudah terdidik dengan karakter, ada kedisiplinan, loyalitas, peningkatan kinerja, etos kerja dan etika kerja, itu akhirnya menjadi kepribadian,” jelasnya.

Budi berpandangan, kepribadian yang dibangun melalui kesadaran diri merupakan modal dasar untuk mencapai keberhasilan. Terlebih, tugas UPT PJJ berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat melalui pengelolaan infrastruktur jalan dan jembatan.

Karena itu, pekerjaan di bidang bina marga menurutnya tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan administrasi dan teknis. Dibutuhkan pula kepedulian sosial agar setiap pekerjaan benar-benar bermuara pada kepentingan masyarakat.

“Di dalamnya juga ada kepedulian secara administrasi, teknis dan kepedulian sosial. Itu linier dengan kecerdasan spiritual dan pendidikan agama yang mengajarkan bagaimana kita memberikan manfaat kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip prinsip khairunnas anfa'uhum linnas, yang bermakna bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Nilai tersebut, lanjut Budi, sangat relevan dengan posisi pegawai pemerintah sebagai abdi negara. Tidak peduli jabatan maupun status kepegawaiannya, setiap orang memiliki tanggung jawab yang sama untuk memberikan manfaat melalui pekerjaan yang dilakukan.

“Sebagai abdi negara, apapun posisi dan jabatannya, kita harus bisa memberikan manfaat yang banyak kepada masyarakat. Dengan begitu kita bisa memberikan kontribusi yang baik kepada bangsa dan negara,” tegasnya.

Ingin Tinggalkan Jejak Kepemimpinan yang Baik

Dalam pengarahan tersebut, Budi juga menekankan pentingnya membangun hubungan kerja yang sehat tanpa membedakan status sosial maupun jabatan. Menurutnya, seluruh pegawai merupakan bagian dari satu sistem pelayanan yang memiliki tujuan sama, yakni memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Pesan tersebut sekaligus menjadi bagian dari refleksi Budi menjelang berakhirnya masa pengabdiannya sebagai pimpinan. Ia mengungkapkan keinginannya untuk meninggalkan jejak positif bagi jajaran yang selama ini dipimpinnya.

“Tahun depan saya sudah purna tugas. Saya ingin happy ending, memberikan jejak-jejak yang baik kepada orang-orang yang saya pimpin, supaya ke depan bisa lebih baik, lebih maju, sukses dan berhasil,” tuturnya.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan, bagi Budi, bukan semata-mata soal jabatan. Lebih dari itu, kepemimpinan harus meninggalkan nilai, keteladanan dan budaya kerja yang dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.

Budi sendiri memiliki latar belakang yang tidak lepas dari sejarah lokal Pacitan. Ia masih berada dalam trah Kanjeng Jimat, tokoh yang dikenal dalam sejarah babat tanah Pacitan. Namun, bagi Budi, nilai sejarah tersebut bukan sekadar garis keturunan, melainkan dapat menjadi pengingat tentang pentingnya memberikan pengabdian dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi daerah.

Melalui pembinaan internal yang dilakukan secara rutin, UPT PJJ Pacitan berupaya membangun budaya kerja yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian tugas, tetapi juga pada kualitas pelayanan.

Sebab, jalan dan jembatan bukan sekadar konstruksi fisik. Infrastruktur tersebut menjadi urat nadi mobilitas masyarakat, distribusi barang, aktivitas ekonomi serta konektivitas antardaerah.

Karena itu, kualitas pelayanan UPT PJJ pada akhirnya akan diukur bukan hanya dari seberapa cepat pekerjaan diselesaikan, tetapi juga dari seberapa besar keberadaannya mampu memberikan rasa aman, nyaman dan manfaat nyata bagi masyarakat. (Red.)

Posting Komentar

0 Komentar

Terkini