![]() |
| Festival Rontek Pacitan 2026 resmi berakhir. Malam puncak berlangsung meriah dengan penampilan yang masih memukau. Minggu, (19/7/2026) |
PACITAN | lensanasional.com – Festival Rontek Pacitan 2026 resmi mencapai puncaknya pada Minggu malam (19/7/2026). Memasuki hari ketiga sekaligus malam penutupan, suasana Kota Pacitan kembali dipenuhi ribuan masyarakat yang datang dari berbagai penjuru Kabupaten Pacitan untuk menyaksikan kemeriahan pesta budaya tahunan tersebut.
Setelah sukses menyedot perhatian publik pada malam pertama dan kedua, festival penutup kali ini kembali menghadirkan sajian spektakuler melalui Costume Carnival yang menjadi pembuka sebelum parade rontek dimulai. Kreativitas kostum, tata artistik, serta penampilan para peserta berhasil menghibur ribuan pasang mata yang memadati sepanjang rute festival.
Peserta yang tampil pada malam terakhir terdiri dari Perwakilan SMA, Perwakilan SRMA, Kecamatan Pringkuku, Kecamatan Punung, Kecamatan Bandar, dan Kecamatan Donorojo. Masing-masing peserta menampilkan konsep dan cerita yang berbeda, menjadikan malam penutupan semakin berwarna.
Meski jumlah penonton pada malam kedua yang bertepatan dengan malam Minggu dinilai sedikit lebih ramai, antusias masyarakat pada malam penutupan tetap luar biasa. Sejak sore hari, warga telah memadati kawasan Alun-alun Pacitan hingga sepanjang jalur parade untuk mendapatkan posisi terbaik menyaksikan setiap penampilan.
Festival Rontek bukan hanya menjadi panggung pelestarian seni budaya, tetapi juga membawa berkah ekonomi bagi masyarakat. Deretan pelaku UMKM tampak ramai diserbu pembeli sepanjang malam. Pedagang makanan, minuman, hingga cendera mata menikmati peningkatan omzet selama festival berlangsung. Bahkan para juru parkir dadakan juga ikut merasakan dampak positif dari membludaknya jumlah pengunjung yang datang ke pusat kota.
Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian datang dari Grup Rontek Laskar Proyo Gati dari Kecamatan Bandar. Kelompok ini mengangkat tema asal-usul Desa Tumpuk, sebuah kisah sejarah dan legenda lokal yang dikemas dalam pertunjukan teatrikal, musik rontek, tari, serta visual artistik yang memukau.
Cerita diawali dengan gambaran wilayah di ujung utara Kabupaten Pacitan, tepatnya di Desa Tumpuk. Dari hamparan bukit yang masih alami, muncul dua tokoh utama, yakni Ki Ageng Proyo dan istrinya Nyai Gati.
Dalam alur cerita yang dibawakan, Ki Ageng Proyo digambarkan sebagai seorang tokoh sakti mandraguna yang memiliki kesaktian luar biasa, bukan hanya di alam nyata tetapi juga dipercaya mampu menembus alam gaib. Sementara Nyai Gati digambarkan sebagai perempuan berparas cantik yang memancarkan pesona hingga dikenal di alam nyata maupun alam maya.
Keduanya kemudian memulai perjalanan membabat kawasan perbukitan di wilayah utara Pacitan untuk membuka sebuah pemukiman baru. Dari perjalanan inilah lahir kisah yang dipercaya menjadi bagian dari sejarah terbentuknya Desa Tumpuk. Melalui perpaduan narasi, tata cahaya, kostum, koreografi, dan iringan musik rontek yang dinamis, Laskar Proyo Gati berhasil menghidupkan kembali cerita rakyat tersebut di hadapan ribuan penonton.
Selama tiga malam penyelenggaraan, Festival Rontek Pacitan 2026 berhasil menghadirkan puluhan penampilan terbaik dari perwakilan sekolah maupun kecamatan se-Kabupaten Pacitan. Inovasi konsep panggung berjalan yang diterapkan tahun ini membuat masyarakat dapat menikmati pertunjukan lebih nyaman di sepanjang rute, sekaligus memperluas dampak ekonomi bagi para pelaku usaha lokal.
Festival ini kembali membuktikan bahwa Rontek bukan sekadar hiburan tahunan, melainkan identitas budaya masyarakat Pacitan yang terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya. Dengan tingginya antusiasme masyarakat serta kualitas penampilan para peserta yang semakin meningkat setiap tahun, Festival Rontek Pacitan semakin layak menjadi agenda budaya unggulan yang mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah dan mengangkat nama Pacitan di tingkat nasional, bahkan menuju panggung internasional. (Ans)







0 Komentar