![]() |
| Foto Dokumentasi Kepala DKPP Pacitan menghadiri pelatihan pembuatan Micesla dan Trichoderma dan Rudal Iran di TPP Pringkuku. Selasa, (12/05/2026) |
PACITAN | lensanasional.com – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pacitan bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), PPL, dan petugas lapangan terus melakukan inovasi dalam upaya pengendalian hama tikus yang mulai menyerang sejumlah lahan pertanian di Pacitan. Salah satu inovasi yang diperkenalkan kepada petani adalah emposan ramah lingkungan bernama “Rudaliran” atau Rudal Iran, singkatan dari Racun Pengendali Tikus Ramah Lingkungan.
Inovasi tersebut diperkenalkan sebagai langkah antisipasi terhadap meningkatnya ancaman serangan tikus di area persawahan yang berpotensi mengganggu produktivitas pertanian masyarakat.
Kepala DKPP Kabupaten Pacitan, Sugeng Santoso. SP, M.Sc. menjelaskan, pembuatan emposan “Rudaliran” merupakan hasil kreativitas dan inovasi petugas pertanian bersama penyuluh lapangan dalam menciptakan metode pengendalian hama yang lebih aman dan mudah diterapkan petani.
“Ini inovasi dari teman-teman BPP bersama PPL dan DKPP dalam melakukan pengendalian hama tikus secara ramah lingkungan. Harapannya ketika nanti muncul serangan hama di wilayah Kabupaten Pacitan, teman-teman sudah memiliki bahan pengendali tikus yang siap digunakan,” terang Sugeng.
Rudaliran dibuat dari lima bahan utama yang masing-masing memiliki fungsi berbeda, yakni KNO3, arang batok kelapa, soda kue, belerang, dan kapur barus.
KNO3 digunakan sebagai pemicu asap emposan, sementara arang batok kelapa berfungsi menjaga proses pembakaran tetap stabil. Soda kue dimanfaatkan agar emposan tidak menimbulkan ledakan saat digunakan. Sedangkan belerang berfungsi sebagai bahan pengendali hama, dan kapur barus menjadi pembeda utama karena menghasilkan aroma menyengat yang tidak disukai tikus.
Menurut Sugeng, penggunaan bahan-bahan tersebut dipilih karena relatif mudah didapat dan lebih ramah lingkungan dibanding penggunaan bahan kimia berlebihan di lahan pertanian.
Selain memperkenalkan Rudaliran, DKPP juga mengembangkan berbagai inovasi lain seperti pestisida nabati, Trichoderma, hingga “Micesla” sebagai langkah antisipasi terhadap serangan organisme pengganggu tanaman yang sewaktu-waktu dapat muncul di Pacitan.
“Teman-teman juga membuat Micesla dan Trichoderma sebagai upaya antisipasi apabila sewaktu-waktu terjadi serangan hama maupun penyakit tanaman di Pacitan,” imbuhnya.
Terkait munculnya isu di masyarakat mengenai dugaan keterkaitan antara serangan tikus dengan kasus leptospirosis yang sempat ramai diperbincangkan, Sugeng menegaskan bahwa DKPP menjalankan tugas sesuai tupoksi dalam menangani hama pertanian, bukan persoalan kesehatan masyarakat.
Ia juga menepis anggapan adanya korelasi langsung antara wilayah serangan tikus sawah dengan kasus leptospirosis pada manusia.
“Wilayah yang muncul leptospirosis informasinya berada di Tulakan, sedangkan serangan hama tikus yang kami tangani muncul di Ngadirojo. Jadi menurut kami tidak ada korelasi langsung antara leptospirosis pada manusia dengan serangan hama tikus di sawah,” jelasnya.
Meski demikian, DKPP tetap mengedukasi para petani agar selalu menggunakan alat pelindung diri (APD) saat beraktivitas di lahan pertanian sebagai langkah antisipasi menjaga kesehatan.
Lebih lanjut, Sugeng menyampaikan bahwa sejak tahun lalu dirinya telah menginstruksikan seluruh BPP di Kabupaten Pacitan agar menyediakan pestisida nabati, pupuk organik, hingga bahan pengendali hama sederhana yang dapat diberikan secara gratis kepada petani saat terjadi serangan hama.
“Saya sudah menginstruksikan agar semua BPP menyediakan pestisida nabati, pupuk organik, termasuk inovasi seperti yang dibuat hari ini, supaya bisa diberikan kepada petani secara gratis. Jadi ketika ada serangan hama, teman-teman penyuluh dan petugas BPP sudah memiliki stok yang siap diaplikasikan di masyarakat,” pungkasnya.
Melalui berbagai inovasi tersebut, DKPP Pacitan berharap para petani semakin siap menghadapi ancaman hama pertanian secara mandiri, efektif, dan tetap memperhatikan aspek lingkungan serta kesehatan masyarakat. (Ans)








0 Komentar