PACITAN | lensanasional.com – Festival Ronthek Pacitan 2026 menghadirkan wajah baru dalam pelaksanaannya. Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Pacitan menerapkan konsep panggung berjalan (moving stage) serta sistem non-ranking guna menghadirkan kompetisi yang lebih objektif sekaligus mengembalikan esensi kesenian rontek sebagai musik tradisional yang dimainkan sambil berjalan.

Festival bertema "Gema Bambu Pacitan" yang masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 ini akan berlangsung di kawasan Alun-Alun Pacitan pada 17–19 Juli 2026 dengan melibatkan peserta kategori umum, pelajar, dan ekshibisi.

Kepala Disparbudpora Pacitan, Munirul Ichwan, mengatakan perubahan sistem penilaian merupakan hasil evaluasi penyelenggaraan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya penilaian dilakukan di dua pos stasioner, kini peserta akan dinilai sepanjang jalur pertunjukan melalui lima titik penilaian, terdiri dari garis start, panggung utama di garis akhir, serta tiga titik panggung berjalan yang tersebar di sepanjang rute.

"Peserta tidak hanya dinilai saat berhenti di satu titik, tetapi harus mampu menampilkan performa terbaik sepanjang perjalanan. Inilah ruh rontek tradisional yang ingin kami hadirkan kembali," ujar Munirul, Kamis (16/7/2026).

Untuk menjaga objektivitas, posisi dewan juri akan dirahasiakan sehingga seluruh Disparpeserta dituntut tampil maksimal dari awal hingga akhir penampilan.

Sementara itu, Plt Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Pacitan, Adetya Wicaksana Putra, menjelaskan penilaian dilakukan oleh dewan juri yang berasal dari kalangan akademisi, praktisi seni, dan pemerhati budaya tingkat nasional hingga internasional. Aspek yang dinilai meliputi orisinalitas, kreativitas garapan, harmoni, dinamika pertunjukan, serta kualitas musikalitas, bukan kemewahan properti yang digunakan peserta.

Selain konsep panggung berjalan, Festival Ronthek Pacitan 2026 juga mengubah sistem kejuaraan menjadi non-ranking. Tidak ada lagi juara satu, dua, maupun tiga, melainkan dipilih tiga penyaji terbaik sebagai bentuk apresiasi terhadap kualitas karya seni yang ditampilkan.

Disparbudpora gelar Pers konferensi menjelang festival rontek Pacitan 2026 di Hotel Grand Bromo. Kamis, (16/07/2026)

Tak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, festival ini juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui penyelenggaraan Pasar Ronthek, keterlibatan pelaku UMKM, serta edukasi budaya melalui Gubuk Rontek yang mengenalkan sejarah bambu sebagai instrumen musik khas Pacitan. Pembukaan festival juga akan dimeriahkan dengan Fashion Carnival hasil kolaborasi bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan.

Dengan berbagai inovasi tersebut, Festival Ronthek Pacitan 2026 diharapkan semakin memperkuat identitas budaya daerah sekaligus menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjung ke Pacitan. (Ans)

#FestivalRonthek2026