Saturday, August 8

Berantas Penyebaran Narkoba di NTB, PMII Bali Nusra Usul Dirresnarkoba Polda NTB jadi Tempat Rehabilitasi


Mataram, - Masalah narkoba merupakan bukan hal baru tentu narkoba merupakan penyakit yang sudah menjelar di masyarakat. Melihat fenomena tersebut Dirresnarkoba Polda NTB selalu mencari solusi dan memerangi Narkoba.


Fokus kerja Dirresnarkoba Polda NTB diantaranya tidak menitik beratkan kepada pemakai tetapi menitik beratkan kepada yang profit oriented, mendorong semua pihak terlibat dalam proses pemotongan aliran peredaran narkoba di NTB.


"Saya mengharapkan dukungan dari teman-teman OKP dalam membangun opini di masyarakat untuk tidak lagi ada toleransi terhadap siapapun yang terlibat dalam peredaran barang haram itu," kata Dirresnarkoba Polda NTB, Kombes Pol. Helmi Kwarta Kusuma pada acara dialog Publik yang digelar PKC PMII Bali Nusra, Sabtu (8/7).


Lebih lanjut menurut Helmi Kwarta,sebagai bentuk keseriusan dirinya menangani Narkoba di NTB, Helmi siap mempertaruhkan jabatan dan siap berhadapan dengan siapapun


Ia menambahkan, bahwa Dirresnarkoba Polda NTB juga menggunakan ahli-ahli IT yang diharapkan mampu meretas penggunaan teknologi dalam memuluskan peredaran Narkoba.


"​Selama dua bulan lebih kami menyita kurang lebih 7 kg sabu itu artinya kita sudah menyelamatkan 70.000 masyarakat NTB untuk itu mari kita sama-sama perangi Narkoba," ungkapnya.


Sementara itu, BNN Provinsi NTB yang menjadi dasar melakukan pemberantasan Narkoba adalah angka keterpaparan. Pertama angka keterpaparan pengguna yang hanya sekedar pakai, dan kedua, keterpaparan setahun pakai.


"​Kalau dilihat dari statistic angka terpapar narkoba memang tidak terlalu tinggi, tetapi tetap kita waspada karena peredarannya masih tetap berlanjut dan sulit di hentikan," terang Kepala BNN Prov. NTB, Gde Sugianyar.


Alasan pemakaian narkoba yang paling tinggi adalah rasa ingin mencoba, padahal sangat berbahaya yang bisa berdampak langsung terhadap tubuh baik secara fisik dan psikis.


"Untuk itu kita harus bersama mencari inovasi pencegahan narkoba yang massif sebagai upaya ika menekan angka penyalahgunaan narkoba di NTB," ungkapnya.

 

Hal strategis dalam rangka membantu pemerintah untuk mensyi’arkan darurat narkoba harus mendorong peran-peran aparat penegak untuk melakukan pencegahan penindakan. 


Kepala ombudsmen RI Perwakilan NTB,  Adhar Ahkim menyatakan, khusus untuk narkoba, aparat kepolisian harus mendorong inovasi penanganan atau pencegahan dan penegakan yang tidak bisa terlalu lunak tehadap narkoba.


Posisi Ombudsmen adalah melakukan pengawalah terhadap standar-standar SOP dan tidak menyimpang sesuai dengan garis besar. 


"Saya pribadi sangat kagum ada pak Dirresnarkoba yang beberapa bulan terakhir sangat agresif memerangi narkoba," ungkapnya.


Sementara, PKC PMII Bali Nusra angkat bicara terkait pola rehabilitasi pelaku narkoba.


Pasalnya, Rehabilitasi pasca pemutusan di pengadilan menunggu waktu 12 (Dua Belas) bulan untuk membutuhkan rehabilitasi dan pidana.


PKC PMII Bali Nusra merekomendasikan bahwa tempat untuk rehabilitasi yang dinilai paling pas adalah di Resnarkoba karena bisa diawasi langsung oleh polisi.


"Tempat paling pas adalah Resnarkoba, kira bisa memutus komunikasi dan interaksi," lanjutnya.


Rekomendasi yang diberikan  PKC PMII Bali Nusra merupakan gagasan yang out the Box.


"Menunggu hasil putusan bisa menjadi waktu rehabilitasi, bukan sebagai waktu menunggu putusan atau belajar menjadi bandar hebat," terangnya.


Aziz meminta agar BNN segera mengeluarkan rekomendasi tempat rehabilitasi.


"BNN Secepatnya koordinasi dengan Kapolda dan Resnarkoba, memberikan rekomenadi tempat rehabilitasi yang pas dalam rangka memutus mata rantai peredarannya Narkoba di NTB," pungkasnya.


EmoticonEmoticon