Thursday, August 20

75 Tahun Indonesia Merdeka, PMII Mataram: Bebaskan Indonesia dari Narkoba


Mataram- Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI yang Ke 75, organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Mataram menggelar diskusi publik dalam rangka cipta Sumber Daya Manusia yang unggul dan rakyat bebas narkoba untuk Indonesia Maju.


Pada sambutannya, Ketua Cabang PMII Kota Mataram, Herman Jayadi mengatakan musibah pandemi Covid -19 tidak menjadi kendala untuk terus bicara tentang pemuda dan nasib bangsa demi menjadi Indonesia maju dan unggul. 


"Membangun SDM melalui organisasi pemuda sangat membantu bangsa ini. Pemuda dibangun dan dibentuk melalui organisasi kepemudaan," katanya Herman saat ditemui disalah satu Cafe di Kota Mataram, Kamis 20 Agustus 2020.


Dikatakannya, menciptakan SDM unggul dan maju, pemuda harus terhindar dari narkoba karena narkoba sangat berbahaya bagi generasi.


"Kita sepakat no narkoba, yes prestasi. Pemuda berprestasi dan bebas dari narkoba," imbuhnya.


Ditresnarkoba Polda NTB, Helmi Kwarta Kusuma mengatakan bahwa tidak ada bangsa maju dan hebat jika di landasi dengan narkoba. Tidak ada produk narkoba akan bertahan lama, narkoba di jamin akan membunuh kualitas sumber daya manusia.


"Ketika SDM unggul musnah, negara akan hilang," paparnya.


Dikatakannya, narkoba yang beredar di Provinsi NTB, semua barang haram itu berasal dari luar NTB.


"Berdasarkan data narkoba Polda NTB jumlah kasus ada sekitar 322 kasus, 441 tersangka, 9, 57 kg ganja yang di amankan," katanya.


Menurutnya, yang mengkhawatirkan sekarang ini, usia yang banyak terpapar narkoba rata-rata umur di bawah 40 tahun.


"Ini usia emas, yang terpapar narkoba," cetusnya.


Dikatannya, tugas kita bersama  mencegah narkoba, kita melibatkan semua pihak untuk memberantas narkoba.


"Apabila pemuda  diam. Apa yang terjadi? saya berkomitmen memberantas narkoba. Saya  minta diberikan legitimasi bersama perangi narkoba.  Kita lawan semua sendikat narkoba dan penghianat. Saya berusaha maksimal  untuk menggurangi suplai narkoba di NTB," tukasnya.


Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi NTB Nauvar F. Farinduan mengatakan, mahasiswa wajib menjadi garda terdepan bersama memberantas narkoba.


"Kita sepakat narkoba merusak generasi bangsa," katanya.


Menurutnya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB belum beranjak dari peringkat 29 dari 34 provinsi di Indonesia. Peringkat  sama seperti tahun 2018 lalu. NTB masih menghuni papan bawah klasemen bersama NTT, Papua, Papua Barat, Kalimantan Barat dan Sulawesi Barat.


Dikatakannya, tiga komponen itu terdiri dari dimensi kesehatan, pendidikan hingga hidup layak. Ketiga komponen tersebut menjadi penyokong utama pertumbuhan IPM. Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat menjadi 66,28 tahun.


“Indikator ini meningkat 0,41 poin, jika dibandingkan 2018 yang mencapai 65,55 tahun,” ucapnya.


Selain UHH, harapan lama sekolah (HLS) menjadi komponen kedua yang mengalami peningkatan. Yakni meningkat 13,48 tahun atau meningkat 0,01 poin dibandingkan 2018. Sedangkan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) meningkat menjadi 7,27 tahun. 


Nilai ini meningkat 0,24 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pengeluaran per kapita per tahun bertambah menjadi Rp 10,64 juta per orang/tahun.


“Indikator ini meningkat Rp 356 ribu dibandingkan 2018. Tugas pemuda hari untuk bersama melakukan perubahan," tandasnya.


Sementara itu, Wakil Ketua KNPI NTB Zuhairi dalam materinya menyatakan Refleksi sejarah itu melihat kembali perjuangan kemerdekaan, sebagai contoh bujur panah, menarik anak panah ke belakang untuk melesat jauh ke depan dengan kemajuan.


Lain hal dengan persoalan narkoba yang dapat menghilangkan Ciri khas kesadaran kemanusiaan, hingga berpikir layaknya binatang. 


"Maka dari itu flash back sejarah ke belakang, penting bagi kita untuk belajar kembali dari pengalaman kehidupan sebelumnyasebelumnya, sebagai motivasi diri agar bertindak, berpikir, dan berkata-kata yang positif," tutupnya.


EmoticonEmoticon