Tuesday, July 21

Persatuan Mahasiswa Tirtanadi Gelar Dialog Publik


Foto: Narasumber Sedang Menyampaikan Materi Dialog Publik di Desa Tirtanadi.(Lensanasional.com/ist)




Lombok Timur- Berbicara radikalisme dan terorisme merupakan sebuah situasi yang strength dan over terhadap pemahaman sehingga memunculkan situasi fanatic terhadap perbedaan. 

"Ketika kita sudah sudah berada dalai kondisi ini maka kita akan cenderung ingin berbeda dan menyalahkan orang lain," kata Ustad Muardi selaku Founder Gawah Tengaq Foundation pada acara dialog publik yang digelar di Desa Korleko, rabu (22/07).

Tambahnya, sebagai pemuda harus mampu mengenali diri sendiri, lingkungan sekitar hingga sampai pada sekup yang lebih luas agar mampu terhindar dari situasi tersebut agar bisa tercapai kehidupan yang penuh toleransi intinya untuk kondisi saat ini kita harus sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku.

Sementara itu,  menurut Akademisi Mashun, ketika berbicara radikalisme maka ada hal yang tidak bisa pisahkan yakni fundamentalisme, sebelum beranjak lebih jauh maka harus memulai dengan memahami apa definisi dari radikalisme dan terorisme.

Lebih lanjut, Istilah radikalisme di Indonesia merupakan sebuah klaim terhadap kelompok fundamentalis oleh Amerika.

"Pertanyaannya kelompok siapakah itu.? sehingga muncullah wacana bahwa golongan itu diperuntukkan untuk orang yang tidak suka perdamaian, tidak suka pluralisme dan tidak suka terhadap Negara sehingga selalu cenderung berfikir untuk menimbulkan ketidak nyamanan terhadap Negara," terang Mashun.

Katanya, di Indonesia fenomena ini juga terjadi, di beberapa daerah sering terjadi gerakan-gerakan yang mengarah kepada radikalisme yang disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah kata inteligen sehingga muncul keinginan dari golongan mereka untuk menunjukkan kelompok mereka sehingga nama kelompok mereka terangkat.

"Di Indonesia sendiri banyak berkembang seperti contoh golongan yang menolak demokrasi atau anti pemerintahan saya itu salah satu contoh gerakan-gerakan intoleransi yang melahirkan gerakan-gerakan anti Negara," tambahnya.

Sementara itu Pengurus NW Lombok Timur, Ali Wildan yang berbicara masalah toleransi seringkali membentur-benturkan antara Negara dengan agama, antara nasionalis dan religious.

"Yang kita harus lakukan itu adalah kita harus menjaga tradisi-tradisi peninggalan bangsa kita, ngaji diniyah belajar baca tulis Al-Qur’an serta belajar dasar-dasar beragama,"

Di zaman sekarang ini semuanya serba mudah tinggal cari di internet tapi ada satu yang terputus yakni belajar adab, tata cara atau etika dalai kehidupan.

Ia berpesan kepada semua terlebihnya pemuda untuk menumbuhkan semangat perjuangan, rajin belajar sekolah meskipun teknologi sudah berkembang tetapi aktivitas-aktivitas keagamaan yang bisa menunjang keimanan dan ketakwaan dan mengajak santri atau siswa kepada hal-hal yang bisa menjaga tradisi-tradisi agar tidak mudah terpengaruh oleh faham dari luar.

"Saya kira kita semua harus membentengi diri, memperkuat pemahaman keagamaan agar kita tidak terpengaruh. Banyak ceramah-ceramah di TV dan youtube tapi harus kita saring jangan cepat tanggapnya," pungkasnya.(red)


EmoticonEmoticon