Friday, December 6

Narkoba dan Terorisme Mengancam NTB

Oleh : Suaeb Qury, Ketua LTN NU NTB. (lensanasional.com)

Opini : Nusa Tenggara Barat baru-baru ini dihebohkan oleh 15 kilo gram ganja yang ditangkap oleh  BNN NTB di kawasan terminal mandalika-Mataram. Belum lama hilang kejadian penangkapan ganja seberat 15Kilo gram. Kejadian yang tidak kala hebohnya dan cukup menyita perhatian Nasional yakni penangkapan 6 orang pelaku teroris di Bima.

Jika saja, julukan NTB sebagai surga dunia, begitu juga dengan letak georafisnya yang terdiri dari dua pulau yakni pulau Lombok dan pulau Sumbawa. Dan hamparan kekayaan alam dan keindahan nya membuat provinsi ini menjadi sorotan dunia. Sehingga dengan muda juga para pelaku, pengedar Narkoba serta tetoris dengan nyaman, datang dan mencoba merusak generasi di NTB.  Belum lagi dengan kawasan wisata manjadi obyek dan sasran, sebut saja mulai dari pantai senggigi, Gili serta kawasan khusus mandalika(motogp)nya, membuat provinsi ini begitu diminati oleh para wisatawan se entero dunia.

Bukan itu saja, pesona indah dan nyamannya NTB, membuat orang senang berlama-lama di Pulau yang dijuluki surga dunia bagi para pelancong.  Makin mendekat dengan kenyaman dan indahnya pulau yang benama NTB yang dihuni oleh tiga suku besar(sasak mboja dan samawa). Tentu memiliki keunikan budaya dan adat istiadat yang  bersendikan agama Islam.  Modal bedar NTB juga memiliki kekuatan agama yang diwakilkan oleh para Tuan Guru sebutan masyarakat sasak mempunyai pengaruh dalam membina dan membimbing umat Islam di Lombok sehingga pondasi keIslaman yang diajarkan oleh para Tuan Guru cukup kuat menanamkan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin.

"Kita sudah diperkenalkan ke dunia internasional, bahwa NTB adalah daerah wisata. Dimana dengan adanya ribuan masjid, dan ribuan hotel. Tapi, kita masih kurang memperhatikan budaya literasi di NTB ini. Harusnya pemerintah daerah menginisiasi itu". Untuk apa sebenar dan pentingnya dunia literasi?  Tentu jawabannya adalah ilmu pengetahuan dan jendela infirmasi ilmu.

Artinya NTB harus juga menjadi  jendela dunia pariwisata yang berbasis ilmu pengetahuan. Dengan demikian masyarakat disekitar kawasan- pun atau pada umumnya ikut melek juga dengan literasi yang berkaitan dengan wacana tetorisme, narkoba serta islam rahmatan lilalamin.  Untuk apa semua itu,  agar masyarakat tidak dikejutkan dengan images masih tidak terkontrol nya peredaran narkoba di NTB. Zona merah ancaman teroris.

"Kita butuh satu cara pandang dan wawasan masyarakat melek dengan dunia itu. Caranya? Membumikan dunia literasi dengan pandangan Islam Rahmatan Lil'aalamiin. Kita taruh juga buku-buku bacaan tentang bahaya narkoba, bahaya terorisme dan radikalisme, baik di hotel-hotel atau di tempat umum lainnya. Supaya ada counter untuk wawasan mereka."

"Kita butuh satu cara pandang dan wawasan masyarakat melek dengan dunia itu. Caranya? Membumikan dunia literasi dengan pandangan Islam Rahmatan Lil'aalamiin. Kita taruh juga buku-buku bacaan tentang bahaya narkoba, bahaya terorisme dan radikalisme, baik di hotel-hotel atau di tempat umum lainnya. Supaya ada counter untuk wawasan mereka."

Bukankah sebuah kewaspadaan dini dimulai dari sebuah pengetahuan, apa yang dilakukan oleh para tokoh agama dan tuan guru serta lembaga terkait selama ini melakukan sosialisasi  dianggap cukup berhasil. Namun menyediakan pengetahuan yang universal ya, tentu dengan membaca.

Salah satu cara dari sekian banyak cara melawan narkoba, teroris ya. Kenapa tidak dengan mini library di Hotel-hotel, Bandara, Darmaga, dan lainnya. Dan harus menjadi sebuah gerakan bersama. Dengan menyediakan buku bacaan tentang narkoba,teroris danDan  buku pendamping tentang Islam Rahmatan Lil'aalamiin. Semuanya berpulang pada komitmen pemerintah harus mensupport untuk sebuah gerakan bersama.

Lebih-lebih NTB akhir-akhir ini masih diperbincangkan dengan informasi yang tak mengenakan. Salah satunya adalah soal maraknya narkoba dan terorisme.
Pemerintah daerah, harus mempunyai gagasan dan menerima gagasan dalam memberantas permasalahan besar semacam narkoba dan terorisme. Tentu harus dimulai dengan perlahan dan kongkrit di lapangan.

"Kenapa tidak pemerintah melakukan langkah-langkah nyata di masyarakat. Dengan cara membuat perpustakaan mini dengan menyiapkan buku-buku Narkoba dan terorisme di semua tempat, seperti di hotel dan tempat-tempat umum lainnya," ungkap Suaeb.

Dengan cara ini, tambahnya, bahwa diyakini akan membuat masyarakat tahu bagaimana ciri-ciri dari pada bahaya narkoba tersebut. Serta pada buku itu juga akan memudahkan masyarakat dalam mengenali ciri-ciri pengedar narkoba serta terorisme itu sendiri.

Mungkin saja dengan jalan ini,  dunia literasi dan kewaspadaan dini masyarakat dimulai dari membaca dengan menyediakan  perpustakaan mini tentang narkoba dan terorisme, sedikit tidak ini akan mampu memberantas dan semua masyarakat akan ikut mengawasi hal tersebut.

Ini bukanlah sebuah tawaran nakal, akan tetapi dari kebisaan membaca dengan tersedianya fasilitas perpustakaan mini ini, masyarakat juga berhak tahu dan menjadi kontrol di lapangan terhadap maraknya narkoba dan bahaya teroris yang ada di sekitar.


EmoticonEmoticon