MUI NTB Bertemu PMII Bicara Masalah Toleransi

- November 20, 2019
advertise here

Mataram, Isu Radikalisme dan Intoleransi menjadi isu Nasional di Indonesia. Kerukunan umat beragama dalam berbangsa dan bernegara sering terusik dengan adanya Radikalisme dan Toleransi. Perlu adanya pemahaman tentang toleransi sehingga mempererat hubungan antar anak bangsa.

Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Bali Nusra menggelar acara talk show mengangkat Thema "Dalam rangka meningkatkan toleransi umat beragama kita bumikan Islam sebagai rahmatan Lil Alamin di NTB" di aula UKMK NTB. Kamis, (21/11/19).

Ketua PKC PMII Bali-Nusra, Soeharto Aziz mengatakan bahwa kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya mencegah gesekan yang kemungkinan akan terjadi di kalangan Pemuda.
" Gesekan yang terjadi di Indonesia karena kurangnya toleransi antara umat beragama, sering kali perbedaan yang menjadi masalah padahal perbedaan justru yang menjadi alasan untuk kita bersatu" ungkap Aziz saat diwawancarai.

"PMII sampai hari ini dan terus konsisten berbicara kebhinekaan, karena secara social kegamaan NTB tidak hanya Islam, banyak juga saudara-saudara kita yang berkeyakinan lain, sehingga penting untuk kita sebagai kader Muda Islam sama sama menjaga kebhinekaan untuk kemaslahatan bersama dan terciptanya kedamaian sampai dirasakan oleh anak cucu kita. " Jelasnya.

Lebih lanjutnya lagi, Aziz menyoroti aksi bom bunuh diri di Medan, berdasarkan aksi tersebut kegiatan ini diselenggarakan untuk menanamkan rasa toleransi yang tinggi sehingga tidak ada aksi serupa terjadi lagi.

"Akhir-akhir ini juga berbagai kelompok radikalisme telah menunjukkan aksinya dipermukaan yang sampai mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, lagi-lagi kelompok ini bertopeng pada wajah Islam, salah satu contoh terakhir adalah gerakan terorismeyang terjadi di Medan pada tanggal 12 November 2019, kejadian bom bunuh diri kali ini merupakan aksi yang cukup berani karena dilakukan di tempat yang seharusnya aman karena banyak aparat kemananan (Polisi) yang sedang berjaga, yang seharusnya bisa memberikan rasa aman kepada masyarakat sipil yang berada di kantor tersebut. Oleh karena demikian tujuan diksusi ini untuk menanamkan kesadaran kepada kaum muda  tentang pentingnya membumikan Islam Rahmatan Lil’alamin sebagaimana jati diri Islam itu sendiri yang mengedapankan Toleransi antarsesama." Jelasnya saat sambutan.

"Hal yang perlu diperhatikan akhir-akhir ini adanya wacana kebijakan yang dikeluarkan oleh Menteri Agama mengenai penggunaan celana cingkrang, hal ini tidak perlu dibesar - besarkan dan diperdebatkan." tutup Aziz.

Profesor Zainal Asikin, SH, SU (Akademisi UNRAM) saat menyampaikan materi mengatakan bahwa toleransi bukan hanya teks tapi tentang konteks, " Toleransi bukan maslah teks tapi soal konteks, karena toleransi bukan pada persoalan jasmani melainkan soal hati nurani. Ajakan untuk merawat hati sehingga tumbuh sebagai hati yang mengedepankan cinta dan kasih sayang antar sesama"  Jelasnya.

"Secara konseptual Islam sebagai Agama yang mengajarkan monoteisme tauhid yang harus diwujdkan dlam bentuk kepasrahan diri dan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya sebagai utusan pembawa rahmah guna meraih kebahagiaan dan kesellamatan, baik di dunia maupun di akhirat." tambahnya.

sementara itu, Ketua MUI NTB
Profesor. H. Saiful Muslim, MM menjelaskan kegiatan MUI hanya mengkonsepkan dan kerjakan yaitu ormas yang tergabung dalam MUI, " Majelis ulama adalah konsep, yang bekerja adalah ormas-ormas yang tergabung dalam majelis Ulama.

Majelis Ulama Indonesia menyerukan pesan kepada Ummat Muslim untuk menciptakan kehidupan yang damai, harmonis dan yoleran antar ummat beragam adalam rangka mewujudkan Islam Rahmatan Lil’alamin. Spirit tersebut harus diwujudkan melalui sikap dan prilaku keberagaman yang santun rukun, toleran, saling menghormati dan menerima perbedaan keyakinan." terangnya.
Advertisement advertise here
 
banner here