Dokter Sapto Sutardi Penyelamat Gizi Buruk

- November 28, 2019
advertise here
Oleh : Suaeb Qury, Ketua LTN NU NTB


Opini - Suatu prestasi yang patut diapresiasi, apa yang diraih oleh seorang Dokter Sapto Sutardi yang bertugas di puskesmas Sekotong meraih penghargaan karena menciptakan aplikasi android untuk menghitung nilai gizi buruk.

Prestasi yang maha karya Ini, bukan sekedar sebuah penghargaan yang diraih, akan tetapi ini adalah bagian dari kekayaan intelektual yang mampu memadu padankan antara realitas sosial dengan kemampuan Informasi teknoligi.

Kemampuan sang dokter pantaslah meraih penghargaan tingkat Nasional dari 140 orang tenaga kesehatan teladan puskesmas se-Indonesia menerima penghargaan dari Menteri Kesehatan RI, Selasa (12/11) Di Jakarta.

Pemberian penghargaan Tenaga Kesehatan Teladan di Puskesmas Tingkat Nasional tahun 2019 merupakan bentuk apresiasi bagi para tenaga kesehatan atas pengabdian dan kerja kerasnya. Kebanggaan masyarakat NTB

Salah satu putra terbaik Lombok Barat, Dr. Sapto Sutardi berhasil meraih penghargaan tingkat nasional itu. Dokter umum yang bertugas di UPT BLUD Puskesmas Sekotong sejak 2017 itu mendapat juara 1 (satu) Inovasi Pelayanan Kesehatan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Di tingkat Nasional.

Bisa jadi, khsusunya di NTB kalau saja ada lima orang atau lebih,menjadi dokter yang memiliki inovasi, seperti dokter Sapto mempu membuat aplikasi yang dinamakan "dr. Sapto Anthro". Aplikasi berbasis android ini memiliki fungsi untuk menilai status gizi dengan cepat, tepat, dan akurat (usia 0-19 tahun).

Bukan sekedar aplikasi yang dibuat oleh sang dokter ini,akan tetapi menyelamatkan bayi-bayi dari ancaman gisi buruk dan stanting dan itulah yang paling bernilai dan utama. Sehingga mendapatkan penghargaan dan pengakuan dunia.

Dan disinilah,setidaknya pemerintah daerah, memberikan apreasiasi atas keberhasilan sang dokter aplikator. Apa lagi di era kepemimpinan Dr. Zul yang telah menetapkan program utama dan unggulan yakni revitalisasi posyandu dan stanting, jika saja orentasi program pemerintah daerah menuntaskan persoalan gizi buruk dan stanting. Dengan mengunakan pengujian aplikasi sang dokter ini, akan bisa terjawab.

Bisa dibayangkan cara kerjanya saja,  sudah obyektif. Dari petugas gizi dan ibu rumah tangga. Pengujian objektif menunjukkan, petugas jika menggunakan aplikasi ini, 7 kali lebih cepat, dan kesalahan perhitungan 0%.

Dengan menggunakan aplikasi ini terjadi peningkatan temuan kasus gizi buruk dua kali lipat dari tahun sebelumnya melalui pelibatan masyarakat dengan aplikasi, dan meningkatkan dua kali lipat kecepatan perbaikan gizi oleh dokter dan petugas gizi. Karena masyarakat dapat terlibat langsung dalam screening awal kasus stuting atau gizi kurang dan gizi buruk.

Pengakuan tulus dari sang dokter "Saya sangat senang karena bisa memberikan yang terbaik kepada Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) khususnya Kabupaten Lombok Barat dalam menurunkan angka stunting dan gizi buruk"

Belajar dari sebuah keberhasilan atau hasil inovasi, buat NTB yang mengusung misi "NTB sehat dan bersih". Tidak usah jauh-jauh, apa yg telah diraih oleh sang Dokter Saptoto dari Sekotong Lombok Barat dan Rumah Sakit Daerah Kabupaten Tulungagung.

Mimpi Gubernur NTB yang ingin mewujudkan Rumah Sakit Daerah bersandar Internasional,  bisa saja tercapai. Namun, hal yang kecil dari yang lebih utama dari apa yang diraih oleh sang Dokter Saptoto,  bisa dijadikan sumber dan semangat melahirkan inovasi bagi dokter lainnya.

Dan apalagi bisa belajar dari apa yang raih oleh  Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Iskak Tulungagung, Jawa Timur,  sebagai ruma sakit terbaik di dunia dalam hal penyelenggaraan layanan publik,  menerima penghargaan Gold Award sebagai rumah sakit terbaik untuk kategori 'IHF/Bionexo Excellence Award for Corporate Social Responsibility'. Anugerah i dalam forum International Hospital Federation Congress and Award ke-43 di Oman, Uni Emirat Arab.

Bisakah rumah sakit yang ada di NTB meraih penghargaan internasional?. Tentu bisa saja, kalau dimulai dengan langkah pertama melakukan perubahan dan inovasi. Apa yang dicapai oleh RSUP NTB dengan meraih penghargaan pelayanan publik terbaik dari Menpan-ARB baru-baru ini, tentu langkah awal yang baik.

Untuk meraih penghargaan saja,tentu  butuh inovasi.Bagaimana dengan rumah sakit yang ada di NTB, hanya sekedar menjalankan rutunitas melayani orang sakit. Tapi itu juga, tugas dan tanggung jawab pelayanan publik bagi warga masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Impian besar Gubernur NTB, bukan lagi sebuah hayalan belaka mewujudkan RSUD NTB menjadi rumah sakit yang berstandar internasional.  Entah itu kapan,  tapi yang jelas jejak untuk menuju rumah sakit berstandar internasional sudah dalam angenda besar NTB gemilang.

Semoga saja,  hari ini dan kedepannya buat NTB gemilang bisa melahirkan inovasi yang melayani kasus gizi buruk dan stanting yang masih menghantui NTB. Dan apa yang dihasilkan oleh sang dokter Androit bisa menjadi panduan untuk semua dokter di NTB.(*).
Advertisement advertise here
 
banner here