Saturday, October 26

Mendikbud Baru dan Ekspektasi Publik Berlebihan

Foto Penulis : Agus Dedi Putrawan,Dosen FDIK UIN Mataram (lensanasional.com/wldn)

OPINI : Masih terngiang dalam ingatan kita, dulu bagaimana Anis Baswedan dielu-elukan ketika Jokowi menunjuknya sebagai Mendikbud baru. Sebagai akademisi ia terkenal kritis terhadap pemerintah, apalagi dengan menginisiasi gerakan Indonesia Mengajar. Ekspektasi publik dengan rekam jejak yang mentereng menggantung tinggi seolah-olah publik menemukan oase di Padang gersang. 

Dengan prestasi yang mentereng, ketika di luar pemerintah menjadikannya the special one, namun berbanding terbalik setelah masuk ke ranah birokrasi, ia kelihatan kelabakan. Apa yang terjadi, ia pun terkena reshuffle jilid I dan publik pun terdiam seribu bahasa.

Pola-pola zaman Anis kembali terulang, ekspektasi publik kembali menyeruak ke permukaan setelah mengetahui Nadiem Anwar Makarim dinobatkan sebagai Mendikbud baru di kabinet Indonesia bersatu. Ia tercatat sebagai menteri termuda umur 35 di kabinet tersebut yang konon presiden Jokowi terpincut gara-gara keberhasilannya sebagai seorang pengusaha Indonesia. Ia merupakan pendiri serta CEO Go-Jek, sebuah perusahaan transportasi dan penyedia jasa berbasis daring yang beroperasi di Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Singapura, Vietnam dan Thailand.

Dirayu berulang kali untuk jadi menteri dan kesekian kalinya juga menolak hingga pada akhirnya mau dan memilih menahkodai Mendikbud.

Lagi-lagi Nadim Anwar Makarim adalah the special one namun tidak sadar masuk ke jebakan Batman kekuasaan, menyodorkan diri ke publik rakyat Indonesia untuk dikontrol, dikritik dan demo sebagai perpanjangan tangan presiden. Sebagai pembisnis di luar pemerintah tidak ada yang memperhatikan, dia bebas berimprovisasi semaunya, namun di dalam pemerintahan ia harus taat, masuk dan mengikuti pola kerja birokrasi yang kaku dan njlimet.

Tentu Nadim Makarim bukan orang bodoh, ia punya pertimbangan-pertimbangan strategis sebagai seorang pembisnis, namun publik juga harus tahu bahwa Nadim kini adalah bawahan presiden yang kapanpun bisa direshuffle, dia digaji dari pajak rakyat.

_"Tidak ada visi misi menteri, yang ada adalah visi misi presiden dan wakil presiden"_ kata Presiden Jokowi.

Jadi logikanya, apapun yang dilakukan oleh pemerintah adalah wajar atau normal, tidak ada yang spesial karena mereka digaji dari pajak rakyat. Tidak ada yang spesial jika dia digaji oleh rakyat karena itu tugasnya sesuai undang-undang, berbeda dengan orang yang berkarya di luar pemerintahan, mereka adalah orang spesial yang berdiri di kaki sendiri.

Tidak ada prestasi dalam pemerintah, yang ada adalah ia sedang melaksanakan tugasnya secara normal. Hanya saja sekarang ini kita sulit menemukan pemerintah yang menjalankan tugasnya secara normal, sehingga yang normal kita anggap prestasi (ini dinamakan hipnotis dalam kekuasaan)
U
Terakhir mari kita kawal bersama dan jangan terlena dengan uporia publik akan Mendikbud baru kita ini. (LN/adp)


EmoticonEmoticon