Saturday, October 26

Dinasti Politik Indonesia

Foto : karikatur dinasti sistem politik indonesia (lensanasional.com/Jo)

Oleh : Khairil Rizwan
Mahasiswa UIN Mataram

OPINI : Lensanasional.com-Dinasti politik bukan istilah baru lagi dalam perpolitikan di Indonesia. Praktik politik dinasti masih lumrah dilakukan oleh politikus tingkat nasional samapai tingkat yang paling bawah.

Politik dinasti dapat diartikan sebagai kekuasaan politik yang di jalankan sekelompok orang yang masih dalam hubungan keluarga, baik karna garis keturunan, hubungan darah, atau karna ada ikatan perkawinan, dan tentunya partai pengusung tak mau kalah untuk ikut serta dalam dinasti tersebut.

Indonesia mulai membuka keran demokrasi sejak tumbangnya Rezim Orde Baru di bawah pimpinan Suharto pada tahun 1998, di mana seluruh masyarakat Indonesia bebas bersuara dan menyuarakan pendapatnya, bebas mengkritik,hingga bebas memilih maupun di pilih.

Kebebasan itu membuat masyarakat punya kesempatan yang sama dalam hal kekuasaan. Semua warga Negara dari berbagai golongan di jamin haknya untuk ikut serta dalam kontestasi perpolitikan di Indonesia, kesempatan itu semakin terbuaka luas manakala adanya aturan tentang desentralisasi kekuasaan atau penyerahan kekuasan pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom berdasarkan Asas Otonomi, di tengah kebasan itu, ada satu fenomena yang di rasa janggal, namun cukup sulit untuk dicegah yaitu praktik politik dinasti.

Munculnya dua nama putra Presiden RI Joko Widodo, Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep, dalam bursa pemilihan Wali Kota Surakarta Periode 2020-2025 memancing beragam reaksi publik. Meski baru sebatas survei, namun Gibran dan Kaesang di sebut- sebut bisa saja menjadi awal terbangunnya dinasti politik keluarga Jokowi. Saya melihat bahwa putra dan putri Presiden Indonesia memang memiliki modal besar untuk berpolitik,terutama dari segi popularitas. 

Anak-anak presiden ini dinilai akan jauh lebih mudah menjangkau dan membangun basis massa dengan popularitasnya. Ada klan Suharto, ada klan Megawati, ada klan SBY, ada klan keluarga cendana, ada klan Gus Dur, dan kini ada klan jokowi.

Para pemimpin negeri ini melibatkan anak-anaknya di panggung politik sebut saja Megawati dan SBY, Megawati memiliki Puan Maharani yang sekarang menjabat sebagai ketua DPR RI yang mungkin dapat meneruskan langkahnya di partai raksasa PDIP. Sementara SBY membuka ruang seluas-luasnya bagi Agus Harimurti Yudhoyono di Partai Demokrat.

Mereka yang berada di lingkaran dinasti politik sering menyalahgunakan kekuasaan, menyelewengkan amanah jabatan. Mereka yang pernah menjadi kepala daerah tetap leluasa mengendalikan pemerintahan, lantaran suksesornya berasal dari keluaraga sendiri.(LN/Jo)


EmoticonEmoticon